INSIBERNEWS - Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat kembali mencuat. Di tengah situasi yang memanas, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa negaranya terbuka untuk melakukan dialog dengan Washington, asalkan dilakukan secara adil dan setara tanpa tekanan atau ancaman militer.
Pernyataan tersebut disampaikan Araghchi saat melakukan kunjungan resmi ke Turki pada Jumat lalu. Dalam keterangannya kepada media, ia menegaskan bahwa Iran tidak menolak diplomasi, namun menolak keras negosiasi yang dilakukan di bawah bayang-bayang intimidasi.
“Iran tidak pernah menutup pintu perundingan. Namun, negosiasi tidak bisa berlangsung jika disertai ancaman,” ujar Araghchi dalam konferensi pers bersama Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan.
Baca Juga: Tak Tinggal Diam soal Fitnah Medsos, Sarwendah Jalani Pemeriksaan di Polda Metro Jaya
Meski membuka peluang dialog, Araghchi dengan tegas menyatakan bahwa kemampuan pertahanan dan program rudal Iran sama sekali tidak akan dibahas dalam forum negosiasi apa pun. Menurutnya, keamanan nasional adalah hak mutlak setiap negara.
“Keamanan rakyat Iran bukan urusan pihak luar. Kami akan terus menjaga dan mengembangkan kemampuan pertahanan sesuai kebutuhan untuk melindungi negara,” tegasnya.
Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali melontarkan pernyataan keras. Ia tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer terhadap Teheran jika Iran menolak bernegosiasi terkait program nuklirnya.
Baca Juga: Diperiksa Hampir Lima Jam di KPK, Yaqut Tegaskan Tak Ada Kuota Haji untuk Maktour
Awal pekan ini, Trump mengungkapkan bahwa armada militer besar AS, termasuk kapal induk USS Abraham Lincoln, telah dikerahkan ke kawasan dekat Iran. Ia menyebut langkah tersebut sebagai sinyal kesiapan AS untuk bertindak jika diperlukan.
“Kami mengirim banyak kapal ke wilayah tersebut. Mudah-mudahan kami bisa mencapai kesepakatan. Jika tidak, kita lihat saja apa yang akan terjadi,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih.
Laporan dari Washington menyebutkan bahwa Trump mengklaim telah memberikan tenggat waktu kepada Iran, meski ia enggan mengungkapkan detailnya. Sikap ini dinilai membuat dunia internasional berspekulasi mengenai langkah lanjutan Washington.
Baca Juga: Apple Perketat Privasi Lokasi, Akses Data Presisi Pengguna iPhone Kini Lebih Terbatas
Hubungan kedua negara memburuk sejak tahun 2018, ketika AS secara sepihak menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran dan kembali menjatuhkan sanksi ekonomi. Sejak saat itu, Washington terus menekan Teheran agar menghentikan seluruh aktivitas pengayaan uranium.
Amerika Serikat menuduh Iran berupaya mengembangkan senjata nuklir, tuduhan yang berulang kali dibantah oleh pemerintah Iran. Teheran menegaskan bahwa program nuklirnya murni untuk kepentingan damai.
Artikel Terkait
Tabung Whip Pink di Apartemen Lula Lahfah Masih Diselidiki, Polisi Telusuri Jalur Pengiriman
Diperiksa Hampir Lima Jam di KPK, Yaqut Tegaskan Tak Ada Kuota Haji untuk Maktour
Rifqinizamy Dorong Ambang Batas Parlemen, Dinilai Kunci Partai Solid dan Demokrasi Berkualitas
Di Tengah Tekanan AS ke Iran, Arab Saudi Pilih Jalur Senyap: Diplomasi Lebih Diutamakan
Kasus Iklan Bank BJB Bergulir, KPK Dalami Komunikasi dan Jejak Perjalanan Ridwan Kamil
Pemulihan Pascabencana, Pemerintah Kebut Pembangunan Huntap di Sumatera Utara dan Tapanuli Selatan