INSIBERNEWS - Gelombang pembersihan besar-besaran di tubuh militer China kembali menegaskan arah konsolidasi kekuasaan Presiden Xi Jinping yang kian menguat. Loyalitas mutlak kini menjadi syarat utama, bahkan bagi para jenderal senior yang sebelumnya dikenal dekat dengan pusat kekuasaan.
Langkah ini dipandang sebagai sinyal tegas bahwa tidak ada ruang bagi figur yang dianggap berpotensi menghambat agenda politik Xi.
Kendali penuh atas militer dinilai krusial untuk memastikan stabilitas kekuasaan jangka panjang sekaligus memperkuat posisi presiden sebagai figur sentral negara.
Baca Juga: Saudi dan UEA Tegas Tutup Pintu untuk Serangan ke Iran, Opsi Militer AS Kian Terbatas
Sejumlah penyelidikan internal telah menyeret nama-nama besar di jajaran Tentara Pembebasan Rakyat (PLA). Beberapa jenderal berpangkat tinggi dicopot, diperiksa, bahkan menghilang dari ruang publik, memicu spekulasi luas di kalangan pengamat politik dan militer internasional.
Situasi semakin mencolok setelah mayoritas anggota Komisi Militer Pusat China terseret dalam pusaran penyelidikan. Lembaga yang selama ini menjadi pusat pengambilan keputusan strategis militer itu kini praktis berada di bawah pengaruh satu figur dominan.
“Ini adalah tingkat konsentrasi kekuasaan militer yang jarang terlihat sejak era Mao Zedong,” kata seorang analis keamanan Asia Timur.
Baca Juga: Dikirim Lewat Program Resmi, PMI Asal Medan Meninggal di Korsel Tanpa Kepastian Hak
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran tersendiri. Di satu sisi, Xi dianggap berhasil memotong mata rantai faksi dan potensi pembangkangan. Namun di sisi lain, terlalu terpusatnya keputusan militer pada satu orang dinilai berisiko bagi efektivitas komando dan stabilitas internal.
Pemerintah China sendiri menyebut langkah ini sebagai bagian dari kampanye antikorupsi dan reformasi militer. Beijing berulang kali menegaskan bahwa tujuan utamanya adalah menciptakan militer yang profesional, bersih, dan siap menghadapi tantangan keamanan modern.
Baca Juga: DPR Dorong Teknologi BRIN Diterjunkan, Percepat Pencarian Korban Longsor Cisarua
“PLA harus setia kepada Partai dan negara, bukan kepada individu atau kelompok tertentu,” ujar pernyataan resmi yang kerap dikutip media pemerintah.
Di balik narasi tersebut, banyak pihak menilai ada kepentingan strategis yang lebih besar. Isu Taiwan, rivalitas dengan Amerika Serikat, serta dinamika keamanan di Laut China Selatan membuat Xi ingin memastikan militer berada sepenuhnya di bawah kendalinya, tanpa celah loyalitas ganda.
Dengan langkah ini, Xi Jinping tampak ingin menutup semua potensi ancaman sejak dini. Pesannya jelas: dalam struktur kekuasaan China saat ini, kesetiaan adalah segalanya, dan siapa pun yang dianggap menyimpang siap menghadapi konsekuensinya.***
Artikel Terkait
Reza Arap Buka Suara soal Kepergian Lula Lahfah, Isyaratkan Hiatus dan Minta Publik Hentikan Spekulasi
Jelang Ramadan dan Idulfitri, Pemerintah Perkuat Pasokan Energi demi Jaga Inflasi 2026
KPK Geledah Dinas Pendidikan Madiun, Sita Dokumen hingga Uang Tunai Puluhan Juta
Polemik Internal PBNU Mencair, Gus Yahya Siap Tempuh Rapat Pleno dan Sampaikan Permintaan Maaf
IHSG Tertekan 8 Persen, Menkeu Purbaya Yakin Pasar Segera Bangkit dan Tembus Level 10.000
DPR Dorong Teknologi BRIN Diterjunkan, Percepat Pencarian Korban Longsor Cisarua
Indonesia Resmi Masuk Dewan Perdamaian Gaza, Menkeu Singgung Iuran Rp16,7 Triliun
Kepala Bappenas Soroti Urgensi Makan Bergizi Gratis di Tengah Isu Lapangan Kerja
Dikirim Lewat Program Resmi, PMI Asal Medan Meninggal di Korsel Tanpa Kepastian Hak
Saudi dan UEA Tegas Tutup Pintu untuk Serangan ke Iran, Opsi Militer AS Kian Terbatas