INSIBERNEWS - Iran mengeluarkan pemberitahuan penerbangan atau Notice to Airmen (NOTAM) yang memperingatkan adanya latihan militer dengan tembakan langsung di wilayah udara dekat Selat Hormuz. Latihan tersebut dijadwalkan berlangsung selama tiga hari, mulai 27 hingga 29 Januari.
Dalam NOTAM itu, otoritas Iran membatasi penggunaan ruang udara dari permukaan hingga ketinggian 25.000 kaki. Aktivitas tersebut dikategorikan berbahaya bagi penerbangan sipil karena melibatkan manuver militer dan penggunaan amunisi aktif.
Langkah ini menandai peningkatan kesiapsiagaan militer Iran di kawasan yang selama ini menjadi titik rawan konflik. Penutupan sebagian ruang udara itu juga menjadi sinyal kuat bahwa Teheran ingin menunjukkan kemampuan dan kesiapan militernya.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah memang tengah meningkat, seiring bertambahnya kehadiran militer Amerika Serikat di wilayah tersebut. Washington dalam beberapa bulan terakhir memperkuat armada laut dan udaranya, dengan alasan menjaga stabilitas dan keamanan regional.
Selat Hormuz sendiri memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Jalur laut sempit ini menjadi lintasan utama bagi sekitar seperlima perdagangan minyak dunia, sehingga setiap gangguan di kawasan tersebut berpotensi berdampak besar terhadap pasar energi global.
Baca Juga: Fiki Naki Umumkan Kehamilan Pertama Sang Istri, Tinandrose: 'Dari Dua, Akan Segera Menjadi Tiga'
Analis menilai, latihan militer Iran di sekitar Selat Hormuz bukan hanya bersifat rutin, tetapi juga sarat pesan politik. Teheran ingin menegaskan bahwa mereka memiliki kendali dan pengaruh di salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia.
Seorang pengamat keamanan kawasan menyebutkan,
“Latihan dengan tembakan langsung di area sensitif seperti Selat Hormuz hampir selalu dibaca sebagai pesan strategis, bukan sekadar latihan biasa.”
Meski demikian, hingga kini belum ada laporan gangguan langsung terhadap lalu lintas penerbangan internasional maupun pelayaran komersial. Otoritas penerbangan internasional biasanya akan menyesuaikan rute demi menghindari wilayah yang masuk dalam NOTAM.
Situasi ini kembali menegaskan rapuhnya stabilitas di Timur Tengah. Setiap manuver militer, sekecil apa pun, berpotensi memicu reaksi berantai, terutama di kawasan yang menjadi urat nadi ekonomi global seperti Selat Hormuz.***
Artikel Terkait
Dilaporkan soal Dugaan Fitnah, Roy Suryo Pilih Tertawa dan Anggap Laporan Tak Serius
BRI Jangkau 14,8 Juta Pengusaha dengan LinkUMKM, Dorong Penguatan Usaha Berbasis Digital
Unggahan Beby Prisillia Jadi Sorotan, Onadio Leonardo Dikabarkan Resmi Keluar Rehabilitasi
Sudah Ikut Pelatihan, Chiki Fawzi Ungkap Kekecewaan Tiba-Tiba Batal Jadi Petugas Haji 2026
Terancam Hukum, Sydney Sweeney Kembali Kontroversial Gegara Gantung Bra di Hollywood Sign
Cole Palmer ke Manchester United? Pelatih Chelsea Beri Bantahan Tegas: Dia Bagian Penting Proyek Jangka Panjang
Disalip Chelsea! Manchester United Gagal Gaet Bintang Muda Sheffield Wednesday, Yisa Alao
Fiki Naki Umumkan Kehamilan Pertama Sang Istri, Tinandrose: 'Dari Dua, Akan Segera Menjadi Tiga'
Jam Kiamat Makin Dekat! Dunia Kini Tinggal 85 Detik dari Tengah Malam
Survei Ungkap 71,9 Persen Suara Publik, Polri Dinilai Tetap Ideal di Bawah Presiden Dibandingkan Kementerian