Banjir Jabodetabek Bukan Cuma Soal Hujan, Tata Ruang dan Lingkungan Ikut Disorot Istana

Photo Author
- Jumat, 23 Januari 2026 | 09:53 WIB
Istana Negara Soroti Banjir Jabodetabek (Foto : Dok. Insibernews.com)
Istana Negara Soroti Banjir Jabodetabek (Foto : Dok. Insibernews.com)

INSIBERNEWS - Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan persoalan banjir yang terus berulang di wilayah Jabodetabek tidak bisa lagi dipandang sebagai dampak cuaca semata. Menurutnya, intensitas hujan yang tinggi memang menjadi pemicu, namun ada persoalan struktural yang jauh lebih mendasar dan menahun.

Prasetyo menjelaskan, puncak musim hujan pada akhir Januari memang ditandai dengan curah hujan ekstrem di sejumlah wilayah. Kondisi itu membuat kapasitas sungai dan drainase perkotaan kewalahan menampung debit air yang meningkat drastis dalam waktu singkat.

Baca Juga: Masuk DPN, Noe Letto Tegaskan Perannya serta Ungkap Tak Berada di Bawah Kepentingan Politik

“Tentu faktor cuaca berperan, terutama karena curah hujan di bulan basah akhir Januari ini cukup tinggi. Tapi kita juga harus jujur melihat bahwa persoalan banjir tidak sesederhana itu,” kata Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (22/1/2026).

Ia menilai perubahan tata ruang yang tidak terkendali ikut memperparah risiko banjir, khususnya di kawasan penyangga ibu kota. Alih fungsi lahan yang masif, dari daerah resapan menjadi kawasan permukiman dan komersial, membuat air hujan kehilangan tempat untuk meresap secara alami.

“Perubahan tata ruang jelas berpengaruh. Belum lagi kondisi daerah aliran sungai yang mengalami pendangkalan. Aliran air tidak lagi lancar seperti dulu, sehingga saat hujan deras, air mudah meluap,” ujarnya.

Baca Juga: Kasus Guru Dipidanakan Terus Berulang, DPR Dorong Hak Imunitas untuk Tenaga Pendidik

Selain itu, Prasetyo menyoroti persoalan klasik yang selama ini kurang mendapat perhatian serius, yakni menyusutnya jumlah situ, danau, dan telaga di wilayah Jabodetabek. Padahal, kawasan-kawasan tersebut dulunya berfungsi sebagai penyangga alami untuk menahan limpahan air hujan.

Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, kawasan Jabodetabek pada masa lalu tercatat memiliki sekitar 1.000 situ dan danau. Namun, jumlah tersebut terus menyusut dalam beberapa dekade terakhir akibat pembangunan dan lemahnya pengawasan lingkungan.

“Sekarang, data terakhir menunjukkan yang tersisa kurang lebih hanya sekitar 200 situ. Padahal, itu semua berfungsi sebagai reservoir alami daerah tangkapan air. Ini tentu menjadi keprihatinan dan perhatian kita bersama,” kata Prasetyo.

Baca Juga: Hujan Sejak Pagi di Kabupaten Bekasi, Banjir Rendam Permukiman Warga Griya Hasanah Kertamukti hingga 50 cm

Ia menegaskan pemerintah pusat terus mendorong koordinasi lintas daerah, mengingat persoalan banjir Jabodetabek tidak bisa diselesaikan oleh satu wilayah saja. Penanganan hulu, tengah, hingga hilir harus berjalan seiring, termasuk normalisasi sungai, revitalisasi situ, serta penataan ulang tata ruang.

Prasetyo juga mengajak pemerintah daerah dan masyarakat untuk lebih disiplin menjaga lingkungan, mulai dari pengelolaan sampah hingga perlindungan kawasan resapan. Menurutnya, tanpa perubahan pendekatan yang menyeluruh, banjir akan terus menjadi ancaman tahunan bagi jutaan warga Jabodetabek.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X