Di Hadapan Ulama Dunia, Menag Nasaruddin Tegaskan Merusak Alam Bukan Bagian dari Ibadah

Photo Author
- Rabu, 21 Januari 2026 | 19:34 WIB
Menteri Agama Republik Indonesia - Nasaruddin Umar (Foto : UIN Walisongo)
Menteri Agama Republik Indonesia - Nasaruddin Umar (Foto : UIN Walisongo)

INSIBERNEWS - Menteri Agama Republik Indonesia Nasaruddin Umar mengangkat isu krisis lingkungan hidup di hadapan ratusan mahasiswa dan akademisi dunia dalam Seminar Internasional Fikih Lingkungan (Ekoteologi) yang digelar di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir, Selasa (20/1/2026).

Forum ilmiah tersebut menjadi ruang dialog lintas negara dan disiplin ilmu untuk membahas peran agama dalam merespons tantangan kerusakan lingkungan global. Kehadiran Menag RI sekaligus mencerminkan komitmen Indonesia dalam mengarusutamakan nilai keagamaan dalam isu keberlanjutan.

Baca Juga: Kasus Razia Rambut Berujung Hukum, Guru Honorer Jambi Mengadu ke DPR RI: 'Jika Tak Bisa Mengajar Lagi, Saya Ikhlas'

Dalam sambutannya, Nasaruddin menekankan bahwa krisis lingkungan tidak semata persoalan teknis atau ekonomi, melainkan juga persoalan moral dan spiritual. Ia mengingatkan bahwa eksploitasi alam yang berlebihan bertentangan dengan nilai-nilai dasar ajaran Islam.

“Menjaga keseimbangan alam adalah bagian dari amanah keimanan. Setiap aktivitas yang merusak lingkungan sejatinya telah keluar dari tujuan ibadah itu sendiri,” ujar Nasaruddin di hadapan peserta seminar.

Imam Besar Masjid Istiqlal itu menjelaskan bahwa Islam memandang hubungan manusia dan alam sebagai relasi tanggung jawab, bukan dominasi. Manusia diberi peran sebagai khalifah, bukan pemilik mutlak atas bumi dan seluruh isinya.

Baca Juga: Ratusan Sekolah Direhab, Gubernur Andi Sudirman Perkuat Fondasi Pendidikan Sulsel

“Dalam perspektif Islam, bumi bukan milik manusia sepenuhnya, melainkan titipan Ilahi yang harus dijaga keseimbangannya,” kata Nasaruddin.

Ia menambahkan, perusakan lingkungan pada hakikatnya bukan hanya merugikan generasi saat ini, tetapi juga mencederai masa depan umat manusia dan keberlanjutan peradaban. Karena itu, pembangunan yang mengabaikan aspek ekologis dinilai kehilangan makna dasarnya.

Konsep ekoteologi, menurut Nasaruddin, menjadi fondasi penting untuk membangun kesadaran kolektif umat Islam agar lebih peduli terhadap lingkungan. Pendekatan ini mengintegrasikan nilai keimanan dengan praktik menjaga alam secara nyata.

Baca Juga: Jabatan Desa Diperdagangkan, KPK Temukan Rp2,6 Miliar dalam Karung di Pati

Ia juga mengajak lembaga pendidikan Islam, termasuk Al-Azhar, untuk terus mendorong kajian dan fatwa keagamaan yang berpihak pada kelestarian lingkungan. Peran ulama dan akademisi dinilai krusial dalam membentuk kesadaran umat di tengah krisis iklim global.

Melalui forum internasional ini, Menag berharap pesan moral Islam tentang perlindungan alam dapat menjadi inspirasi lintas negara, sekaligus memperkuat peran agama sebagai solusi etis dalam menghadapi tantangan lingkungan dunia.***

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X