INSIBERNEWS - Pemerintah Denmark berencana meningkatkan kehadiran militernya di Greenland sekaligus memperkuat keterlibatan dalam latihan bersama NATO. Kebijakan ini menegaskan posisi Denmark dalam menjaga stabilitas dan keamanan kawasan Arktik yang semakin strategis secara geopolitik.
Rencana tersebut disampaikan langsung oleh Menteri Pertahanan Denmark, Troels Lund Poulsen, pada Selasa (6/1/2026). Ia menekankan bahwa langkah ini merupakan bagian dari komitmen Denmark terhadap aliansi pertahanan NATO serta kerja sama erat dengan Amerika Serikat.
“Kami akan memperkuat kehadiran militer di Greenland dan memberikan perhatian lebih besar pada pelaksanaan latihan serta peningkatan aktivitas NATO. Dalam konteks ini, Denmark berdiri bersama Amerika Serikat,” ujar Poulsen, seperti dikutip media nasional Denmark.
Baca Juga: Konflik Venezuela–AS Dinilai Tak Guncang Harga Minyak Dunia, Indonesia Diuntungkan
Pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Denmark mengumumkan bahwa Komite Kebijakan Luar Negeri parlemen menggelar pertemuan khusus untuk membahas hubungan Denmark–Amerika Serikat. Pertemuan tersebut melibatkan Menteri Luar Negeri Lars Løkke Rasmussen dan Menteri Pertahanan Troels Lund Poulsen.
Poulsen juga menegaskan bahwa Denmark dan Greenland sama-sama merupakan bagian dari NATO, sehingga penguatan pertahanan di wilayah tersebut sejalan dengan kepentingan kolektif aliansi.
Isu Greenland kembali menjadi sorotan internasional setelah beredar unggahan kontroversial di media sosial. Katie Miller, istri Wakil Kepala Staf Gedung Putih Stephen Miller, sempat mengunggah gambar peta Greenland yang diwarnai bendera Amerika Serikat disertai keterangan singkat bertuliskan “SEGERA”. Unggahan tersebut menuai reaksi keras dari pihak Denmark.
Baca Juga: Demi Perkuat Coretax, Menkeu Beri Restu DJP Tambah Jabatan Baru hingga 2026
Menanggapi hal itu, Duta Besar Denmark untuk Amerika Serikat, Jesper Møller Sørensen, menegaskan bahwa Kopenhagen mengharapkan penghormatan penuh terhadap kedaulatan dan integritas teritorial Kerajaan Denmark. Ia menilai unggahan tersebut tidak pantas dan dapat menimbulkan kesalahpahaman diplomatik.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, sebelumnya juga beberapa kali menyatakan bahwa Greenland seharusnya menjadi bagian dari Amerika Serikat.
Ia beralasan pulau tersebut memiliki nilai strategis penting bagi keamanan nasional AS serta kehadiran NATO di wilayah Arktik. Dalam pernyataan terpisah, Trump bahkan pernah menyebut Kanada sebagai calon negara bagian ke-51 Amerika Serikat.
Baca Juga: Bela Marwah, Bukan Tutup Mata: Klarifikasi Arief Rosyid soal Pernyataannya tentang Bahlil
Sebagai catatan sejarah, Greenland merupakan koloni Denmark hingga tahun 1953. Pulau terbesar di dunia itu kemudian memperoleh status pemerintahan sendiri pada 2009.
Meski memiliki kewenangan luas dalam mengatur urusan domestik, Greenland tetap menjadi bagian dari Kerajaan Denmark, termasuk dalam urusan pertahanan dan kebijakan luar negeri.
Artikel Terkait
Bela Marwah, Bukan Tutup Mata: Klarifikasi Arief Rosyid soal Pernyataannya tentang Bahlil
Retret Kabinet di Bogor, Prabowo Siapkan Evaluasi Setahun Pemerintahan dan Target Baru 2026
Stok Beras Melimpah, Pemerintah Pastikan Pasokan Aman hingga Lebaran
AS Klaim Pegang Kendali Minyak Venezuela Usai Penangkapan Maduro
Konflik Venezuela–AS Dinilai Tak Guncang Harga Minyak Dunia, Indonesia Diuntungkan