INSIBERNEWS - Bencana alam kembali meninggalkan luka mendalam di sejumlah wilayah Indonesia. Data terbaru Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) mencatat, sebanyak 22 desa dinyatakan hilang akibat bencana yang melanda Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Selain itu, ribuan fasilitas pemerintahan desa mengalami kerusakan berat hingga tak lagi bisa difungsikan.
Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian mengungkapkan, dari total desa yang hilang tersebut, Aceh menjadi daerah dengan jumlah terbanyak.
Sebanyak 13 desa di provinsi berjuluk Serambi Mekkah itu lenyap akibat bencana, disusul delapan desa di Sumatera Utara dan satu desa di Sumatera Barat. Hilangnya desa-desa ini umumnya dipicu oleh banjir besar, longsor, serta abrasi yang merusak permukiman dan wilayah administrasi.
Baca Juga: Rayakan HUT ke-42, Slank Rilis Single 'Republik Fufufafa', Angkat Potret Kekacauan Negeri
Tak hanya menghapus wilayah desa, bencana juga menghancurkan infrastruktur pendukung pemerintahan. Kemendagri mencatat sedikitnya 1.580 kantor desa di tiga provinsi tersebut mengalami kerusakan dengan tingkat yang bervariasi, mulai dari rusak ringan hingga hancur total. Kondisi ini berdampak langsung pada layanan publik di tingkat desa.
Aceh tercatat sebagai wilayah yang paling terdampak, khususnya Kabupaten Aceh Utara dan Aceh Tamiang.
Di dua daerah ini, banyak kantor desa yang tidak lagi bisa digunakan, sehingga aktivitas pemerintahan desa terpaksa dihentikan sementara. Aparatur desa pun kesulitan menjalankan pelayanan dasar kepada masyarakat.
Baca Juga: Legenda Prancis Brigitte Bardot Wafat di 91 Tahun, Ini Jejak Karier dan Warisannya
“Ketika kantor desa rusak parah atau bahkan hilang, roda pemerintahan di tingkat paling bawah otomatis lumpuh. Ini situasi darurat yang perlu penanganan cepat dan terkoordinasi,” ujar Tito dalam keterangannya.
Ia menegaskan, pemerintah pusat terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk memastikan penanganan pascabencana berjalan optimal.
Langkah-langkah yang disiapkan meliputi pendataan ulang wilayah terdampak, relokasi desa yang hilang, serta pembangunan kembali kantor desa agar layanan kepada warga bisa segera pulih.
Baca Juga: Pamer Pacar Baru, Momen Kebersamaan Nathalie Holscher dan Richard Refanov Bikin Netizen Iri
Selain kerusakan fisik, bencana juga berdampak pada kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat desa. Banyak warga kehilangan tempat tinggal, lahan usaha, hingga akses terhadap pelayanan administrasi seperti kependudukan dan bantuan sosial. Pemerintah diminta hadir tidak hanya membangun kembali gedung, tetapi juga memulihkan kehidupan warga.
Kemendagri mendorong pemerintah daerah untuk menggunakan berbagai skema pendanaan, termasuk dana darurat dan dana desa, guna mempercepat proses pemulihan. Di sisi lain, kementerian juga meminta agar perencanaan tata ruang dan mitigasi bencana diperkuat agar kejadian serupa tidak terus berulang.
Artikel Terkait
DJP Siap Kejar Tunggakan Pajak Konglomerat, Rp3,8 Triliun Jadi Target Penagihan 2026
Gerindra Dukung Pilkada Dipilih Lewat DPRD, Dinilai Lebih Hemat dan Minim Biaya Politik
Poster 'Wanted' Netanyahu Penuhi London, Aksi Simbolik Pro-Palestina Menguat
Danielle Resmi Dikeluarkan dari NewJeans, ADOR Putus Kontrak dan Siapkan Gugatan
Harry Styles Kembali Muncul Lewat 'Forever, Forever', Sinyal Comeback yang Bikin Fans Deg-degan
BBRI Tetapkan Cum Date Hari Ini, Beri Kado Awal Tahun Dividen Interim Rp20,6 Triliun untuk Pemegang Saham
Temukan Aksi Sabotase, KSAD Maruli Murka Baut Jembatan Bailey di Aceh Dicuri: Ada Orang Sebiadab Ini Ya
Pamer Pacar Baru, Momen Kebersamaan Nathalie Holscher dan Richard Refanov Bikin Netizen Iri
Legenda Prancis Brigitte Bardot Wafat di 91 Tahun, Ini Jejak Karier dan Warisannya
Rayakan HUT ke-42, Slank Rilis Single 'Republik Fufufafa', Angkat Potret Kekacauan Negeri