Jembatan Putus Tak Kunjung Diperbaiki, Warga Bireuen Terpaksa Seberangi Sungai dengan Tali dan Bambu

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Jumat, 19 Desember 2025 | 08:07 WIB
Menyoroti cerita warga desa di Bireuen, Aceh yang terdampak bencana banjir bandang, kini menyeberangi sungai dengan peralatan seadanya. (Instagram.com/@babang.amien)
Menyoroti cerita warga desa di Bireuen, Aceh yang terdampak bencana banjir bandang, kini menyeberangi sungai dengan peralatan seadanya. (Instagram.com/@babang.amien)

INSIBERNEWS - Beredar luas di media sosial sebuah video yang memperlihatkan kondisi memprihatinkan warga di Kabupaten Bireuen, Aceh, pascabanjir bandang. Rekaman itu menunjukkan warga harus bertaruh nyawa demi melintasi sungai dengan arus deras karena akses jembatan utama hingga kini belum juga pulih.

Bencana banjir bandang yang melanda Bireuen pada akhir November 2025 lalu meninggalkan dampak serius terhadap fasilitas publik. Salah satu yang paling dirasakan warga adalah rusaknya jembatan penghubung antarwilayah, terutama di Desa Kuba Hitam, Kecamatan Bale Panah.

Hingga pertengahan Desember ini, jembatan di desa tersebut masih belum diperbaiki. Akibatnya, akses transportasi warga terputus total, termasuk jalur menuju sekolah, pasar, dan fasilitas kesehatan yang berada di seberang sungai.

Baca Juga: Banjir dan Longsor di Sumatera Telan 1.068 Korban Jiwa, 27 Daerah Masih Tanggap Darurat

Kondisi itu terekam dalam unggahan akun Instagram @babang.amien pada Kamis, 18 Desember 2025. Dalam video tersebut terlihat warga menyeberangi sungai dengan peralatan seadanya, di tengah aliran air yang masih cukup deras.

“Akses di Desa Kuba Hitam terputus,” demikian keterangan yang tertulis dalam unggahan tersebut.

Dalam video lanjutan, tampak sejumlah warga harus bergantian menyeberang sungai dengan risiko tinggi. Awalnya, warga hanya mengandalkan ban bekas sebagai alat bantu untuk menyeberang dari satu sisi ke sisi lain.

Baca Juga: Mentan Amran Beri Peringatan Keras Distributor Pupuk, Petani Tak Boleh Dipersulit

Namun cara tersebut dinilai sangat berbahaya, terutama bagi anak-anak, lansia, dan warga yang membawa barang kebutuhan sehari-hari. Arus sungai yang tidak stabil membuat penyeberangan dengan ban rawan terseret air.

“Warga awalnya hanya bisa menyeberangi sungai menggunakan ban, sekarang sudah ditambahkan tali,” tulis keterangan dalam unggahan tersebut.

Kini, warga berinisiatif memasang tali yang diikatkan di kedua sisi sungai sebagai pegangan. Beberapa warga juga terlihat menggunakan sebatang bambu untuk menjaga keseimbangan saat melintas, meski cara ini tetap menyimpan risiko besar.

Baca Juga: Bea Keluar Batu Bara Siap Berlaku 2026, Penerimaan Negara Diproyeksi Naik hingga Rp25 Triliun

Dalam rekaman itu, seorang warga tampak kesulitan menaiki bambu sebelum akhirnya duduk dan memegang tali erat-erat agar tidak terjatuh ke sungai. Minimnya peralatan keselamatan membuat setiap penyeberangan menjadi pertaruhan nyawa.

Hingga saat ini, warga setempat menyebut belum ada tanda-tanda perbaikan jembatan dilakukan. Mereka berharap pemerintah daerah dan instansi terkait segera turun tangan, mengingat akses tersebut menjadi urat nadi kehidupan warga Desa Kuba Hitam.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X