Surplus Dagang China Tembus Rekor Baru, Tembus USD1 Triliun di Tengah Tekanan Perang Tarif AS

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Selasa, 9 Desember 2025 | 12:11 WIB
Perang dagang AS dan China akan berlanjut karena Donald Trump kembali terpilih jadi Presiden AS (Instagram @ngomonginuang)
Perang dagang AS dan China akan berlanjut karena Donald Trump kembali terpilih jadi Presiden AS (Instagram @ngomonginuang)

INSIBERNEWS - China mencatatkan surplus neraca perdagangan yang mencengangkan sepanjang Januari hingga November 2025, dengan nilai menembus USD 1,08 triliun atau setara sekitar Rp18.000 triliun, menjadi salah satu capaian tertinggi dalam sejarah perdagangan global.

Data yang dirilis oleh Bloomberg pada Senin (8/12/2025) menunjukkan, hanya dalam satu bulan terakhir China berhasil membukukan surplus sebesar USD 112 miliar, mencerminkan ketangguhan sektor ekspor mereka di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.

Baca Juga: Bantuan Bencana Jadi Alat Politik? Lama Berlalu, Ucapan Australia Kembali Lukai Perasaan Indonesia

Menariknya, lonjakan ekspor ini terjadi saat tensi dagang dengan Amerika Serikat kembali memanas, terutama setelah kebijakan tarif agresif diluncurkan oleh Presiden AS Donald Trump pada awal 2025 yang kembali memicu babak baru perang dagang.

Alih-alih terpukul, China justru mampu memutar strategi dengan memperluas pasar ekspornya ke berbagai kawasan lain, seperti Asia Tenggara, Timur Tengah, Afrika, dan Amerika Latin, sehingga ketergantungan terhadap pasar AS perlahan berhasil dikurangi.

“China terlihat semakin agresif mencari pasar alternatif, dan ini membuat dampak tarif dari AS menjadi lebih terkendali,” tulis laporan analisis Bloomberg.

Baca Juga: Jejak Kayu di Hulu Garoga Dicurigai Bukan Sekadar Bencana, Bareskrim Mulai Bidik Aktivitas Perusahaan

Sepanjang 2025, produk-produk unggulan seperti kendaraan listrik, panel surya, baterai, hingga perangkat elektronik menjadi tulang punggung ekspor China, seiring strategi pemerintahnya yang mendorong industrialisasi berteknologi tinggi dan efisiensi rantai pasok.

Para analis menilai surplus jumbo ini sekaligus menjadi sinyal bahwa ekonomi negeri tirai bambu tersebut masih memiliki daya tahan kuat meski berada dalam tekanan geopolitik dan perlambatan permintaan global.

Namun di balik euforia surplus, sejumlah negara mitra dagang mulai mewaspadai potensi banjir produk murah dari China yang dapat menekan industri lokal, sehingga kebijakan proteksi diperkirakan masih akan menjadi isu utama dalam peta perdagangan global ke depan.***

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X