Akses Masih Lumpuh, BNPB Fokus Kerahkan Kekuatan ke Tapanuli Tengah–Sibolga yang Belum Bisa Ditembus

Photo Author
Adi Sutiyawan, Insibernews
- Minggu, 30 November 2025 | 17:49 WIB
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto (tengah) menyampaikan beberapa perkembangan terkait penanganan bencana di Sumatera Utara. (Dok BNPB)
Kepala BNPB, Letjen TNI Suharyanto (tengah) menyampaikan beberapa perkembangan terkait penanganan bencana di Sumatera Utara. (Dok BNPB)

INSIBERNEWS – Upaya penanganan bencana banjir bandang dan tanah longsor di Sumatera Utara memasuki hari keempat. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Suharyanto menyampaikan perkembangan terbaru, menegaskan bahwa sebagian wilayah sudah relatif pulih, namun Tapanuli Tengah dan Kota Sibolga masih menjadi titik kritis yang membutuhkan perhatian penuh pemerintah.

Suharyanto menjelaskan bahwa hujan ekstrem yang mengguyur sejak 25–26 November 2025 menjadi pemicu utama terjadinya banjir dan longsor besar-besaran. Kondisi itu membuat sejumlah kawasan lumpuh seketika.

“Sumatera Utara ini yang terlebih dahulu kena dampaknya. Di hari keempat ini, sebagian sudah tertangani,” tutur Suharyanto dalam konferensi pers bersama Menko PMK di Sumatera Utara, Minggu (30/11/2025).

Baca Juga: 52 Titik SPPG Bergerak di Aceh, Ratusan Ribu Paket Makanan Bergizi Dibagikan untuk Penyintas Bencana

Ia menambahkan bahwa beberapa kabupaten, seperti Langkat, Medan, Tebing Tinggi, dan Asahan, kini mulai terkendali. Penanganan darurat di wilayah-wilayah tersebut tak lagi membutuhkan keterlibatan penuh dari pusat. Namun, situasi berbeda justru terjadi di beberapa daerah lain yang masih menghadapi hambatan berat.

“PR kita di wilayah Sumut ini adalah Tapanuli,” tegasnya.

“Yang terdampak itu Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, sampai Langkat. Tapi yang kondisinya paling butuh perhatian sekarang adalah Tapanuli Tengah dan Sibolga.”

Menurutnya, dua wilayah tersebut masih terisolir karena akses darat terputus akibat rangkaian longsoran tanah.

“Tapanuli Tengah hanya bisa dicapai dari udara. Sementara Sibolga, yang seharusnya bisa ditembus lewat darat, kini sepenuhnya terhalang longsor,” jelas Suharyanto.

Baca Juga: Sambut Bulan Desember 2025, Ini Dia Deretan Hari Libur Nasionalnya!

Situasi terputusnya akses ini juga berimbas pada keterbatasan logistik bagi warga. Suharyanto turut menanggapi video viral yang menunjukkan warga mengambil barang dari sebuah minimarket. Ia menegaskan bahwa situasi itu tidak seperti narasi penjarahan yang tersebar.

“Itu mereka mengambil bahan makanan. Tidak ada tindakan merusak atau memecahkan fasilitas. Mereka takut karena akses tertutup dan pasokan terbatas,” katanya.

BNPB bersama satgas gabungan TNI–Polri kini sedang bekerja mengejar waktu untuk membuka jalur utama yang tertimbun. Berdasarkan laporan tim lapangan, panjang longsoran yang memutus jalur Tapanuli Tengah–Sibolga mencapai hampir 50 kilometer.

“Menurut penjelasan kemarin sore, ini diperkirakan butuh sekitar tiga hari untuk membuka jalur sampai bisa dilalui,” ungkapnya.

Halaman:

Editor: Adi Sutiyawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X