INSIBERNEWS - Kasus ibu hamil yang meninggal dunia usai ditolak oleh 4 rumah sakit di Papua menuai sorotan tajam Ketua DPR RI, Puan Maharani.
Puan memberikan keprihatinan dan menjadi perhatian serius atas terjadinya insiden tersebut.
Menurutnya harus ada evaluasi yang dilakukan tentang skema penanganan kesehatan.
Baca Juga: Tragis! Pengendara Fortuner Tewas Usai Serempet Pesepeda dan Tabrak Truk Parkir di Jakbar
“Hal ini sudah berkali-kali terjadi, karenanya ini juga jadi perhatian dari Presiden. Saya mendapat laporan bahwa Presiden hari ini melakukan rapat khusus terkait hal tersebut,” ujar Puan Maharani di kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta Pusat pada Selasa, 25 November 2025.
Evaluasi Fasilitas dan Penanganan Kesehatan di Wilayah 3T
Politikus dari PDI-P itu lantas menyinggung kebutuhan evaluasi penanganan kesehatan, khususnya di daerah 3T atau daerah tertinggal, terdepan, dan terluar di wilayah Indonesia.
“Jadi DPR juga prihatin dan tentu saja ini sangat concern dan akan meminta komisi terkait untuk mengevaluasi pelaksanaan, hal-hal terkait dengan penanganan kesehatan yang terjadi di khususnya di wilayah 3T,” ucap Puan.
Ia menegaskan, kehilangan nyawa akibat kelalaian penanganan kesehatan tidak boleh terjadi lagi di masa depan.
Baca Juga: Insentif Guru Honorer Naik Tahun 2026, Mendikdasmen Janji Tambah Beasiswa dan Perluas Akses Pendidikan Guru
“Kami akan meminta Kementerian Kesehatan khususnya untuk bisa mengevaluasi penanganan kesehatan di rumah sakit, jangan sampai ada masyarakat yang tidak tertangani,” kata Puan.
“Khususnya ya di wilayah 3 T itu,” imbuhnya.
Berita wafatnya Irene Sokoy menghebohkan masyarakat, karena penolakan yang dialaminya dari 4 rumah sakit.
Disebutkan Irene yang sedang hamil itu mengalami kontraksi, sertaakan melahirkan pada 16 November 2025 lalu dan dibawa ke RSUD Yowari.
Baca Juga: Sekretaris DPRD Banten Ungkap Terimakasih pada Tenaga Pendidik di Hari Guru Nasional
Namun, di rumah sakit tersebut dokter kandungan sedang berada di luar kota dan merujuk Irene ke RS Dian Harapan.
Permasalahan di RS Dian Harapan adalah ruang BPJS Kelas III dan NICU penuh beserta dokter kandungan yang sedang cuti.
Petugas kemudian meminta keluarga untuk membawa Irene ke rumah sakit lain, yakni RSUD Abepura.
Baca Juga: Terungkap! KPK Tahan 3 Tersangka Baru Kasus Dugaan Korupsi RSUD Kolaka Timur
Di RSUD Abepura, ruangan operasi ternyata sedang direnovasi dan tidak bisa menerima pasien gawat darurat.
Rumah sakit terakhir adalah RS Bhayangkara Jayapura dengan masalah yang dihadapi adalah ruang BPJS Kelas III penuh dan tersedia ruang VIP, tetapi keluarga harus membayar uang muka Rp4 juta.
Irene kemudian meninggal dunia saat di perjalanan menuju RSUD Jayapura pada 19 November 2025.***
Artikel Terkait
Bongkar Jejak Percakapan Gelap Sang Ayah Tiri Sebelum Bunuh Alvaro, Polisi Ungkap Ada Peluang Tersangka Baru
Cukai Rokok Tembus Rp176,5 Triliun, Bea Cukai Ungkap Faktor Pendorong Kenaikan Penerimaan
Reforma Agraria Dipercepat, Cak Imin Targetkan 1 Juta Warga Miskin Ekstrem Dapat Tanah Negara
Sekretaris DPRD Banten Ungkap Terimakasih pada Tenaga Pendidik di Hari Guru Nasional
Jakarta Resmi Larang Perdagangan Daging Anjing dan Kucing, Pergub Baru Berlaku Mulai 24 November
Tragis! Pengendara Fortuner Tewas Usai Serempet Pesepeda dan Tabrak Truk Parkir di Jakbar