INSIBERNEWS - Nilai tukar rupiah kembali menunjukkan tanda penguatan di tengah optimisme pasar global terhadap kemungkinan berakhirnya penutupan pemerintahan Amerika Serikat (AS). Sentimen positif ini membuat para pelaku pasar kembali berani mengambil risiko, mendorong mata uang Garuda bergerak menguat terhadap dolar AS.
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai bahwa penguatan rupiah kali ini didorong oleh meningkatnya selera risiko (risk on) investor global. Harapan bahwa government shutdown AS akan segera berakhir menciptakan ruang bagi aset-aset berisiko seperti rupiah untuk kembali diminati.
Baca Juga: Senat AS Akhiri Kebuntuan Panjang, Pemerintah Akhirnya Kembali Beroperasi
“Rupiah berpotensi melanjutkan penguatan terhadap dolar AS, didukung sentimen positif dari kabar akan berakhirnya penutupan pemerintah Amerika,” ujar Lukman di Jakarta, Selasa (11/11/2025).
Pada awal perdagangan hari itu, rupiah tercatat menguat 46 poin atau sekitar 0,28 persen menjadi Rp16.700 per dolar AS, naik dari posisi sebelumnya di Rp16.746 per dolar.
Kinerja ini menjadi sinyal bahwa pasar mulai menaruh kepercayaan kembali terhadap stabilitas ekonomi global setelah berminggu-minggu dilanda ketidakpastian politik di Washington.
Optimisme pasar muncul setelah Presiden AS Donald Trump memastikan bahwa shutdown yang telah berlangsung lebih dari sebulan akan segera berakhir. Dalam pernyataannya, Trump mengatakan proses pemulihan kegiatan pemerintahan akan dimulai begitu rancangan undang-undang (RUU) pendanaan disetujui oleh Kongres.
Sebelumnya, portal berita Axios melaporkan bahwa Partai Demokrat di Senat AS mulai menunjukkan kesediaan untuk menerima paket RUU pendanaan baru yang diajukan kubu Republik.
Paket ini diharapkan mampu menjadi jalan tengah untuk mengakhiri kebuntuan yang selama ini menghambat operasional berbagai lembaga pemerintah.
Baca Juga: Wujudkan Asta Cita Untuk Pemerataan Ekonomi, BRI Berdayakan 4,909 Desa BRILiaN
Hasil pemungutan suara di Senat menunjukkan 60 senator mendukung paket RUU tersebut, sementara 40 lainnya menolak. Dengan jumlah dukungan tepat di ambang batas minimal yang dibutuhkan, keputusan ini membuka peluang besar bagi pemerintahan AS untuk kembali beroperasi penuh dalam waktu dekat.
RUU yang disetujui itu mencakup pendanaan bagi sejumlah lembaga vital seperti Kongres dan departemen pendukungnya, Departemen Pertanian, serta Badan Pengawas Obat dan Makanan (FDA). Selain itu, RUU juga menjamin kelanjutan program bantuan pangan SNAP, tunjangan bagi veteran, serta proyek konstruksi di bawah Departemen Pertahanan atau Pentagon untuk tahun fiskal 2026.
Artikel Terkait
Dihujat Netizen Karena Azizah Salsha Jadi Muse di JFW 2026, Dan Host Live Blunder Brand Erspo Akhirnya Minta Maaf
Imbas Terjadinya Ledakan di SMAN 72 Jakarta, Pemerintah Akan Batasi Game Online, Termasuk PUBG
Marsinah, Simbol Perlawanan Buruh Era Orde Baru, Resmi Jadi Pahlawan Nasional Bersama Soeharto dan Gus Dur
Komisi Reformasi Polri Bentukan Prabowo dan Versi Internal Siap Jalan Bareng, Jimly Pastikan Sinergi Tanpa Tumpang Tindih
Heboh! Rumor Kris Wu Eks Member EXO Meninggal Dunia di Penjara, Pihak Terkait Masih Bungkam
DJ Bravy Akui Selingkuh dan Umumkan Putus dari Erika Carlina, Pernikahan Batal Digelar
Keluarga Pahlawan Nasional Dapat Bantuan Rp57 Juta per Tahun, Gus Ipul: Bentuk Penghormatan atas Jasa Mereka
Wujudkan Asta Cita Untuk Pemerataan Ekonomi, BRI Berdayakan 4,909 Desa BRILiaN
Kasus Bullying di SMPN 19 Tangsel: Siswa Kelas 1 Dianiaya hingga Luka di Kepala, Pihak Sekolah dan PPA Turun Tangan
Senat AS Akhiri Kebuntuan Panjang, Pemerintah Akhirnya Kembali Beroperasi