Di sisi lain, juru bicara kementerian keuangan China, Li Chenggang, mengonfirmasi bahwa Beijing memang telah memperketat ekspor rare earth. Kebijakan ini menjadi senjata strategis China, mengingat dominasinya dalam pasokan mineral tersebut yang krusial bagi rantai pasok global.
“Kebijakan ini tidak hanya berdampak pada China dan AS, tetapi juga mengganggu rantai pasok global,” kata Li Chenggang, yang menunjukkan bahwa ketegangan ini sudah melewati batas kepentingan bilateral.
Baca Juga: Mahfud MD: Kontrak Kereta Cepat Whoosh 'Perangkap Utang' China, Klausul Sita Aset Hantui Indonesia!
Misi Politik dan Ekonomi
Negosiasi di Kuala Lumpur dipandang sebagai langkah awal. Fokus utama kini beralih ke Seoul, Korea Selatan, di mana Presiden Trump dijadwalkan bertemu langsung dengan Presiden Xi Jinping pada 30 Oktober 2025.
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan bahwa pertemuan ini, meskipun bersifat informal, memiliki bobot simbolis yang sangat penting untuk menjaga komunikasi.
“Pertemuan nanti akan menjadi ajang uji kemampuan negosiasi Trump di tengah tekanan perang dagang dan geopolitik,” ujar Scott Bessent.
Meskipun kesepakatan besar tidak diharapkan, pertemuan tersebut diyakini akan membuka peluang untuk kompromi.
Opsi-opsi yang mengemuka mencakup perpanjangan masa berlaku tarif, janji pembelian produk pertanian AS dalam jumlah besar oleh China, atau pelonggaran ekspor chip komputer berteknologi tinggi dari AS ke Beijing.
Ketidakpastian ekonomi global sangat bergantung pada hasil negosiasi di Seoul ini.
Dunia kini menanti apakah pertemuan Trump dan Xi akan menghasilkan komitmen stabil yang mengakhiri saga perang dagang berkepanjangan ini, atau justru memperpanjang bayang-bayang resesi global pada tahun-tahun mendatang (**)
Artikel Terkait
Peringati Hari Santri Nasional, Prabowo Jadikan Momentum Penguatan Pendidikan Keagamaan
Dendam Lama Berakhir Maut: ARH Palu Abang Ipar di Pasar Minggu Usai Tersinggung Soal Rokok
Soroti Kursi Kosong Pelatih Timnas Indonesia, Bung Binder Kritik Garuda Main Acak-acakan di era Patrick Kluivert
Mengintip Cerita AgenBRILink 'Irnaeni' yang Menjadi Penghubung Akses Keuangan Petani Kakao dan Komunitas Perempuan di Papua