Namun, keputusan ini menuai kontroversi. Sejumlah kelompok hak asasi manusia mengkritik langkah Trump yang dianggap mundur dari upaya reformasi sistem hukum pidana di AS.
Mereka menilai hukuman mati bukan solusi jangka panjang, justru berisiko memperburuk masalah keadilan, terutama jika ada kasus salah vonis.
Meski begitu, Trump menolak semua kritik tersebut. Menurutnya, prioritas utama pemerintahannya adalah melindungi warga.
“Saya di sini untuk melindungi orang-orang yang tidak bersalah, bukan mereka yang memilih jalan kejahatan,” katanya menegaskan.
Kebijakan hukuman mati di Washington DC ini menjadi salah satu langkah hukum paling keras di era kepemimpinan Trump. Meski dipandang kontroversial, Trump percaya langkah ini akan memperkuat citra ketegasan pemerintah dalam menjaga keamanan publik di jantung Amerika.***
Artikel Terkait
Sempat Viral Ekspresi Jennifer Coppen Saat Tahu Kekasihnya, Justin Hubner Hilangkan Cincin Pemberiannya Seharga 60 Juta, Kini Sudah Ketemu
UEFA Dikabarkan Siap Gelar Voting untuk Larang Israel Ikut Kompetisi Internasional
Australia Siapkan Larangan Medsos untuk Anak di Bawah 16 Tahun, Roblox hingga TikTok Terancam Diblokir
Pemerintah Inggris Pertimbangkan Bantu Pemasok Jaguar Land Rover yang Terancam Bangkrut Usai Serangan Siber
Xpeng Gaspol Ekspansi, Masuk 5 Pasar Baru Eropa Termasuk Swiss dan Austria
BGN Klarifikasi Menu Ikan Hiu di Program MBG, Sebut Hanya Dua Kali Dihidangkan
Klarifikasi Menpar Widiyanti soal Isu Minta Air Galon untuk Mandi saat Kunker Daerah
Taylor Swift Umumkan Edisi Spesial ‘The Life of a Showgirl’, Vinyl Berwarna Merah Muda dan Emas
Norwegia Donasikan Penjualan Tiket Laga Lawan Israel untuk Bantu Gaza
Chanyeol EXO Siap Debut Solo di Jepang Lewat Album 'Hibi'