Indonesia Kuasai Pasar Alat Berat ASEAN, Batu Bara hingga Nikel Jadi Motor Utama

Photo Author
- Kamis, 18 September 2025 | 14:35 WIB
Ilustrasi Batu Bara (Photo : Instagram.com/ckc.ooo)
Ilustrasi Batu Bara (Photo : Instagram.com/ckc.ooo)

INSIBERNEWS - Indonesia kembali menegaskan posisinya sebagai pemain utama di pasar alat berat Asia Tenggara. Dalam ajang T50 Summit Asian Forum yang berlangsung di Jakarta, Rabu (17/9), Regional Chairman Perkumpulan Tenaga Ahli Alat Berat Indonesia (PERTAABI), Deni Rafli, mengungkapkan bahwa Indonesia memegang pangsa pasar sekitar 40 persen dari total kebutuhan kawasan.

“Indonesia sendiri adalah sekitar 40 persen dari ASEAN market share,” ujar Deni saat berbicara di forum tersebut.

Baca Juga: Vonis 3,5 Tahun Dinilai Tak Adil, Taeil NCT Ajukan Banding Meski Akui Bersalah

Besarnya dominasi Indonesia tidak terlepas dari pertumbuhan dua sektor andalan: konstruksi dan pertambangan.

Data yang dipaparkan menunjukkan nilai pasar konstruksi di Tanah Air pada 2020 berada di angka USD25 miliar, sementara pada 2024 tercatat USD19,96 miliar. Angka ini meski mengalami fluktuasi, tetap menjadi salah satu yang terbesar di kawasan.

Untuk sektor pertambangan, potensi yang tersaji jauh lebih masif. Pasar ini saat ini bernilai USD141 miliar dengan pertumbuhan tahunan mencapai 5,2 persen.

Baca Juga: Indonesia Kekurangan Pemimpin? Erick Thohir Rangkap Jabatan Jadi Menteri Sekaligus Ketua Umum PSSI

Jika tren berlanjut, lima tahun ke depan nilainya diperkirakan bisa menembus USD200 miliar. Komoditas utama seperti batu bara dan nikel menjadi penggerak utama, sekaligus penopang penting bagi perekonomian Indonesia.

“Komoditas utama seperti batu bara dan nikel tetap menjadi motor penggerak. Kedua komoditas ini akan terus menjadi komoditas kunci bagi perekonomian Indonesia,” tambah Deni menegaskan.

Namun, peluang bisnis alat berat di Indonesia tidak hanya berhenti di tambang dan konstruksi. Mekanisasi sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan juga semakin dibutuhkan. Kebutuhan mesin modern untuk menggarap lahan yang luas membuat prospek pasar di sektor agro dan forestri ini sangat menjanjikan.

Baca Juga: Viral Isu Pencopotan Kepsek Karena Tegur Anak Pejabat, Kemendagri Periksa Wali Kota Prabumulih

Selain itu, Deni menyoroti sektor logistik yang saat ini masih banyak dikuasai perusahaan asal Tiongkok. Menurutnya, hal ini menjadi tanda bahwa Indonesia butuh lebih banyak pemain baru agar pasar lebih beragam dan tidak hanya bergantung pada dominasi satu negara.

Kebutuhan besar juga muncul dari wilayah Papua. Deni menyebutkan bahwa total permintaan alat berat di Papua diperkirakan mencapai 2.000 unit, namun sejauh ini baru sekitar 200 unit yang berhasil dikirimkan.

Angka tersebut menggambarkan masih terbuka luasnya ruang investasi, terutama untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah timur Indonesia.

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X