Tragis! Karena Dendam, Dua Pelajar SMP di Pesawaran Nekat Habisi Nyawa Pemilik Salon hingga 78 Tusukan

Photo Author
- Rabu, 3 September 2025 | 07:36 WIB
Ilustrasi pembunuhan (Istimewa)
Ilustrasi pembunuhan (Istimewa)

INSIBERNEWS - Warga Dusun Sugihwaras, Desa Banjar Negeri, Kecamatan Way Lima, Kabupaten Pesawaran, digegerkan dengan penemuan mayat seorang pemilik salon bernama Dainuro, 40 tahun.

Ia ditemukan tewas dengan kondisi mengenaskan pada Minggu dini hari, 31 Agustus 2025, sekitar pukul 04.20 WIB. Tubuh korban dipenuhi 78 luka tusuk di rumah kontrakannya yang juga dijadikan tempat usaha salon.

Baca Juga: Menkeu RI Sri Mulyani Pastikan Tarif Pajak Tidak Naik di 2026

Peristiwa ini semakin mengejutkan karena pelakunya ternyata dua pelajar SMP yang masih sangat muda, berinisial DA (15) dan RK (14). Polisi memastikan keduanya sudah direncanakan melakukan pembunuhan tersebut, bukan sekadar tindak spontan.

Kasat Reskrim Polres Pesawaran, Iptu Pande Putu, menjelaskan bahwa motif di balik pembunuhan sadis ini adalah dendam.

"Motif sementara adalah dendam karena merasa ada ketidakadilan dalam pemberian uang," jelas Pande Putu saat memberikan keterangan kepada wartawan, Selasa malam, 2 September 2025.

Baca Juga: Eks Wamenaker Immanuel Ebenezer Akui Kesalahan Usai Diperiksa KPK

Dari hasil penyelidikan, kedua remaja itu ternyata menyiapkan tiga bilah senjata tajam sebelum mendatangi rumah korban. Mereka masuk ke kamar, mengunci pintu dari dalam, lalu membekap kepala Dainuro dengan bantal. Setelah itu, penusukan dilakukan berulang kali hingga korban tak berdaya dan meninggal di tempat.

Usai menghabisi nyawa korban, DA dan RK langsung melarikan diri. Keduanya memilih berpencar ke dua lokasi berbeda untuk menghindari kejaran aparat.

Namun, pelarian tersebut tak berlangsung lama. Polisi berhasil meringkus keduanya pada Senin, 1 September 2025, tanpa perlawanan berarti. Saat diamankan, keduanya mengakui perbuatannya.

Baca Juga: Biaya Pendidikan hingga Perbaikan, Mensos Ungkap Presiden Bakal Beri Bantuan bagi Korban Unjuk Rasa

Kasus ini memicu keprihatinan masyarakat setempat. Banyak yang tak menyangka anak-anak seusia SMP bisa terjerumus pada tindak kejahatan sekejam itu. Faktor emosi, lingkungan, hingga persoalan ekonomi disebut-sebut menjadi pemicu yang perlu ditelusuri lebih dalam.

Polisi kini masih mendalami latar belakang hubungan antara korban dengan para pelaku. Dugaan sementara, korban kerap memberi uang kepada keduanya, namun jumlah yang diterima dianggap tidak adil sehingga menimbulkan rasa iri dan dendam. Meski begitu, penyidik tetap akan menggali apakah ada faktor lain yang memperburuk keadaan.

Baca Juga: Tuding Menkomdigi Bohong, Fedi Nuril dan Jerome Polin Tak Percaya TikTok Sukarela Tutup Fitur Live

Halaman:

Editor: Varin Vaprilia Caroline

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X