Kedepannya, rantai siklus baterai IBC dan CBL ditutup oleh pabrik daur ulang baterai dengan kapasitas 20 ribu ton baterai bekas per tahun untuk menjadi input material baterai kembali.
Teknologi yang digunakan nantinya diklaim mampu memulihkan lebih dari 95 persen logam berharga, sehingga emisi karbon dapat ditekan dan prinsip ekonomi sirkular terjaga.
“Daur ulang adalah kunci keberlanjutan. Baterai yang selesai tugasnya hari ini harus kembali menjadi sumber daya esok hari,” kata Toto menegaskan.
Baca Juga: David Fincher Dirumorkan Bakal Sutradarai 'Squid Game' Versi Amerika, Beneran?
Selain menargetkan efisiensi rantai pasok, ANTAM dan IBC menekankan manfaat sosial dan lingkungan. Konsorsium ANTAM-IBC-CBL menyiapkan program vokasi untuk warga sekitar, membuka ribuan lapangan kerja baru, serta mendorong pertumbuhan UMKM penunjang.
Seluruh proyek dijalankan dengan standar Environmental, Social & Governance (ESG), mulai dari pengelolaan tailing di Halmahera, penggunaan energi bersih di Karawang, hingga prosedur keselamatan kerja di fasilitas daur ulang.
“Visi kami jelas: bukan sekadar membangun pabrik, tetapi menciptakan ekosistem hijau terintegrasi yang mampu berdampak ekonomi luas sekaligus menjaga bumi,” tutup Toto.
Baca Juga: Aksi Premanisme di Proyek Lotte Chemical Cilegon Digagalkan, Polda Banten Ciduk 7 Pelaku
Dengan rangkaian proyek strategis tersebut, ANTAM dan IBC berharap Indonesia dapat tampil sebagai pemain kunci dalam industri baterai dunia, bukan hanya sebagai pemasok bahan mentah, melainkan produsen teknologi bernilai tambah tinggi.
Artikel Terkait
Tarif Ojol Bakal Naik? Kemenhub Finalisasi Aturan, Kenaikan Capai 15 Persen
Subsidi Listrik 2026 Diusulkan Capai Rp104 Triliun, Fokus untuk Warga Tak Mampu dan Daerah 3T
Sempat Curhat Suaminya Kecanduan Judol, Chikita Meidy Kini Justru Dilaporkan KDRT
Lurah Pinjam Uang ke PPSU, Gubernur Pramono Anung Langsung Ambil Tindakan Tegas
Tragis! Lansia Tewas Terjebak Api, Kebakaran Hanguskan Rumah di Ciracas