Direktur Utama ANTAM Achmad Ardianto mengatakan Pabrik RKEF yang dibangun mengadopsi teknologi pemurnian atomasi feronikel pertama di dunia yang dikembangkan Brunp. Pabrik berkapasitas 88 ribu ton Ni per tahun ini menciptakan model peleburan hijau baru dengan konsumsi energi yang rendah.
“Sejalan dengan praktik ESG, kami bersama mitra strategis bertekad menghadirkan ekosistem baterai listrik yang ramah lingkungan guna mendukung transisi energi nasional yang berkelanjutan,” katanya.
Pabrik HPAL dengan kapasitas 55 ribu ton Ni/tahun yang dibangun ANTAM bersama CBL di KIB juga menggunakan teknologi generasi ketiga yang terdepan, dengan tata letak inovatif bertingkat yang memanfaatka gravitasi alami untuk aliran material.
Baca Juga: Paiman Raharjo Bantah Keras Tudingan Cetak Ijazah Palsu Jokowi: Fitnah Keji!
“Kami merencanakan proyek terintegrasi yang akan memasok energi hijau ini dapat memperkuat posisi Indonesia di sektor energi global yang berkelanjutan,” tambah Ardianto.
Sementara itu di Karawang, IBC dan CBL membangun Pabrik Sel Baterai yang merupakan bagian dari proyek terintegrasi meliputi pembangunan pabrik material aktif baterai yakni prekursor dan katoda, dan fasilitas daur ulang baterai.
Direktur Utama IBC Toto Nugroho menjelaskan, di KIB, IBC bersama mitra global menyiapkan lini produksi material aktif baterai berkualitas tinggi. Pabrik tersebut dirancang memproses 16 ribu ton nikel sulfat per tahun, sekaligus memproduksi 30 ribu ton prekursor dan 30 ribu ton material aktif katoda.
Baca Juga: Ledakan Populasi Lovebug: Serangga Romantis yang Bikin Warga Seoul Resah
"Fasilitas hulu ini diharapkan menutup ketergantungan impor bahan baku katoda—komponen dengan kontribusi paling signifikan dalam sel baterai—sekaligus meningkatkan nilai tambah nikel di dalam negeri," ujar Toto.
Dari Halmahera Timur, aliran bahan setengah jadi akan bergerak ke barat menuju Karawang. Di kawasan industri strategis ini, IBC bersama CBL sedang membangun pabrik sel baterai berkapasitas awal 6,9 GWh (fase 1) dan akan berkembang kedalam kapasitas 15 GWh dalam 5 tahun.
Lini produksi berteknologi mutakhir itu ditargetkan beroperasi pada tahun 2026, memproduksi sel untuk kendaraan listrik dan sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS) baik untuk pasar domestik maupun ekspor.
Baca Juga: Subsidi Listrik 2026 Diusulkan Capai Rp104 Triliun, Fokus untuk Warga Tak Mampu dan Daerah 3T
IBC yang terdiri dari PT Pertamina (Persero), MIND ID dan PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) (Persero) bersama CBL, berkomitmen menjadikan pabrik sel baterai di Karawang sebagai ASEAN Regional Hub untuk memenuhi kebutuhan baterai kendaraan listrik (EV) dan Battery Energy Storage System (BESS) di kawasan.
Komitmen ini telah ditegaskan melalui perjanjian perusahaan patungan yang telah disepakati.
Inisiatif ini mencerminkan peran strategis Indonesia dalam mendorong pertumbuhan ekosistem EV di ASEAN, serta menjadi bukti nyata bahwa Indonesia tidak hanya mampu menyediakan bahan baku, tetapi juga memiliki kapasitas untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi dalam rantai pasok baterai global.
Artikel Terkait
Tarif Ojol Bakal Naik? Kemenhub Finalisasi Aturan, Kenaikan Capai 15 Persen
Subsidi Listrik 2026 Diusulkan Capai Rp104 Triliun, Fokus untuk Warga Tak Mampu dan Daerah 3T
Sempat Curhat Suaminya Kecanduan Judol, Chikita Meidy Kini Justru Dilaporkan KDRT
Lurah Pinjam Uang ke PPSU, Gubernur Pramono Anung Langsung Ambil Tindakan Tegas
Tragis! Lansia Tewas Terjebak Api, Kebakaran Hanguskan Rumah di Ciracas