INSIBERNEWS - Fenomena menurunnya angka kelahiran di berbagai negara menjadi sorotan serius dalam Forum Keluarga Internasional yang digelar di Istanbul, Turki. Dalam salah satu sesi panel bertajuk “Mitos Kelebihan Populasi: Bagaimana Agenda Global Berkontribusi pada Penurunan Populasi?”, para ahli memperingatkan bahwa tren demografi yang menurun bisa menjadi ancaman besar bagi ketahanan ekonomi dan sistem sosial dunia.
Baca Juga: India Bangga dengan Keberhasilan S-400, Rudal Rusia Cetak Sejarah di Pertempuran Udara
Acara yang diselenggarakan oleh Kementerian Keluarga dan Layanan Sosial Turki ini mengangkat tema “Menjaga dan Memperkuat Keluarga dalam Menghadapi Tantangan Global”.
Dalam forum tersebut, para pembicara menyoroti bahwa isu kelebihan populasi yang selama ini digaungkan ternyata justru menutupi krisis lain yang lebih nyata: penurunan populasi akibat rendahnya tingkat fertilitas di berbagai negara, termasuk Turki sendiri.
Baca Juga: 75 Tahun Bersahabat, Indonesia-China Sepakat Perkuat Kolaborasi Lewat Teknologi dan Investasi
Wakil Menteri Tenaga Kerja dan Jaminan Sosial Turki, Lutfihak Alpkan, yang memoderatori panel tersebut, memaparkan bahwa tingkat kesuburan di negaranya kini berada di bawah 1,5—jauh di bawah ambang batas yang dibutuhkan untuk mempertahankan jumlah penduduk, yaitu 2,1.
Padahal, pada era 1970-an, angka fertilitas di Turki masih berada di kisaran 7. Penurunan drastis ini menjadi alarm keras bagi keberlangsungan pembangunan dan regenerasi tenaga kerja di masa mendatang.
Baca Juga: Murah Meriah dan Bergizi! Ini 3 Manfaat Tempe untuk MPASI Bayi
Para pembicara dalam panel juga menyuarakan keprihatinan terhadap pengaruh narasi global yang selama ini cenderung mendorong pengurangan angka kelahiran, baik lewat kampanye lingkungan, gaya hidup bebas anak, maupun tekanan ekonomi yang membuat banyak pasangan menunda atau menghindari memiliki anak.
Padahal, menurut mereka, dunia justru tengah menuju masa di mana kekurangan penduduk usia produktif bisa mengganggu stabilitas negara.
Baca Juga: Puan Soroti Ormas Bergaya Preman: Kalau Bikin Resah, Bubarkan Saja
Forum ini mendorong pemerintah dan masyarakat internasional untuk kembali menempatkan keluarga sebagai pusat pembangunan sosial.
Dukungan kebijakan seperti insentif kelahiran, sistem kerja ramah keluarga, serta edukasi yang membangun nilai keluarga dianggap menjadi kunci untuk menghadapi tantangan demografi yang kian kompleks.
Artikel Terkait
Diskon 50 Persen Listrik Balik Lagi Mulai Juni, Tapi Cuma Buat Pelanggan Daya Kecil
Puan Soroti Ormas Bergaya Preman: Kalau Bikin Resah, Bubarkan Saja
Danantara: Empat Perusahaan China Siap Investasi Besar untuk Kembangkan Industri EV di Indonesia
TPUA Tolak Hasil Uji Ijazah Jokowi Versi Bareskrim, Desak Gelar Perkara Ulang
Investor AS dan Korsel Siap Bangun Puluhan Rusun di IKN Lewat Skema KPBU
Monica Kezia Siap Harumkan Indonesia di Miss World 2025 Lewat Budaya dan Cerita
Murah Meriah dan Bergizi! Ini 3 Manfaat Tempe untuk MPASI Bayi
Tips Latihan Toilet untuk Si Kecil: 3 Cara Bikin Anak Siap Lepas Pampers
75 Tahun Bersahabat, Indonesia-China Sepakat Perkuat Kolaborasi Lewat Teknologi dan Investasi
India Bangga dengan Keberhasilan S-400, Rudal Rusia Cetak Sejarah di Pertempuran Udara