INSIBERNEWS - Aksi unjuk rasa di sekitar Gedung DPRD Kota Malang, Jawa Timur, pada Senin (24/3/2025) berubah ricuh setelah aparat keamanan melakukan tindakan represif terhadap tim medis, jurnalis, dan pendamping hukum.
Para relawan yang sedang mengevakuasi korban luka dan sesak napas justru menjadi sasaran penyerangan.
Termasuk dorongan, pukulan tongkat, ancaman pembunuhan verbal, dan ujaran kebencian.
Baca Juga: Pelatih Bahrain Nilai Kekalahan Timnas Indonesia dari Australia Tidak Cerminkan Kemampuan Tim
Dilansir INsibernews dari akun X @barengwarga (25/3/2025), menurut kesaksian Maj, salah satu anggota tim medis di lokasi, aparat merusak posko kesehatan dan menyita perlengkapan medis.
"Kami terpaksa meninggalkan posko karena diacak-acak. Alat medis kami diambil, bahkan kendaraan yang diparkir di depan posko dirobohkan lalu dibawa ke Polresta," ujar Maj.
Tak hanya paramedis, jurnalis yang meliput aksi serta pendamping hukum dari LBH Pos Malang juga mengalami kekerasan.
Baca Juga: Kontroversi Pernyataan Dubes Israel untuk Austria yang Usulkan Hukuman Mati untuk Anak Palestina
Data LBH mencatat puluhan relawan dan wartawan mengalami luka-luka.
Enam demonstran yang sempat ditangkap akhirnya dibebaskan pada hari yang sama
Namun insiden ini memicu pertanyaan serius atas proporsionalitas tindakan aparat.
Baca Juga: Bahrain Sindir Timnas Indonesia: Miliki 300 juta penduduk, tapi datangkan pemain dari Belanda
Aksi represif ini menuai kecaman dari berbagai pihak, termasuk organisasi HAM dan aliansi jurnalis.
Artikel Terkait
3 Lagu yang Dinyanyikan pada Aksi Demo Indonesia Gelap, Salah Satunya Lagu Sukatani Bayar Bayar Bayar
Viral Aksi Seorang Pemuda Masukkan Uang ke Dalam Kantong Polisi Saat Aksi Demo
CASN Kecewa! Demo Masalah Penundaan Pengangkatan Terjadi di Berbagai Daerah
Rakyat Serbia Muak dengan Korupsi Pemerintah, Terjadi Demo Terbesar Sepanjang Sejarah
Bandung Gelar Aksi Demo, Ribuan Mahasiswa Tolak RUU TNI di Depan Gedung DPRD Jawa Barat