INSIBERNEWS - Pada 17 Maret 2025, Israel melancarkan serangan udara terbesar ke Gaza sejak dimulainya gencatan senjata pada Januari lalu.
Serangan ini terjadi setelah negosiasi untuk perpanjangan gencatan senjata menemui jalan buntu.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memerintahkan serangan tersebut.
Baca Juga: Aliansi Perempuan Indonesia Tolak Revisi UU TNI, Singgung Kasus Pembunuhan Marsinah
Hal ini sebagai respons terhadap tuduhan bahwa Hamas terus menolak membebaskan sandera Israel dan menolak proposal yang diajukan oleh utusan Presiden AS, Steve Witkoff.
Dilansir INsibernews dari akun X @spectatorindex (19/3/2025), akibat serangan udara ini, setidaknya 404 warga Palestina tewas, termasuk perempuan dan anak-anak dan 565 luka-luka.
Hamas mengutuk serangan tersebut dan memperingatkan bahwa tindakan ini dapat membahayakan keselamatan sandera yang masih ditahan.
Baca Juga: Adakan Konferensi Pers, Sri Mulyani Tegaskan Tidak Jadi Mundur dari Kabinet Merah Putih?
Situasi kemanusiaan di Gaza semakin memburuk, terlebih karena blokade bantuan yang telah berlangsung selama dua minggu terakhir, yang semakin memperparah kondisi masyarakat setempat.
Serangan ini mendapatkan respons negatif dari komunitas internasional.
Yang mengutuk kekerasan tersebut dan mendesak penghentian serangan serta perlindungan bagi warga sipil.
Baca Juga: Dinilai akan Memperkuat Kekerasan Terhadap Wanita, Aliansi Perempuan Indonesia Tolak Revisi UU TNI
Konflik antara Israel dan Hamas ini dimulai pada Oktober 2023 setelah serangan Hamas ke Israel, yang mengakibatkan lebih dari 48.000 warga Palestina tewas dan ribuan lainnya mengungsi.
Artikel Terkait
Tahun Paling Mematikan untuk Jurnalis di 2024: Israel Bertanggung Jawab Atas Sebagian Besar Kematian!
Netanyahu Tegaskan Komitmen Israel Ambil Alih Gaza, Sementara Arab Saudi Bahas Alternatif di Pertemuan Puncak
Makin Tegang! Israel Larang Warga Palestina Masuk Al-Aqsa Saat Ramadan
Israel Ancam Putus Pasokan Listrik ke Gaza di Tengah Negosiasi Gencatan Senjata
AS dan Israel Bahas Pemindahan Warga Gaza ke Afrika, Namun Ditolak Negara-Negara Terkait