INSIBERNEWS - Afghanistan kembali dilanda bencana alam yang menelan banyak korban jiwa. Hujan lebat disertai hujan es mengguyur tiga provinsi di negara itu, menyebabkan banjir bandang serta kerusakan yang meluas.
Hingga Rabu (26/2), jumlah korban tewas akibat kejadian ini meningkat menjadi 39 orang, menurut laporan dari pejabat manajemen bencana setempat.
Bencana ini paling parah dirasakan di Provinsi Farah, yang terletak di bagian barat Afghanistan. Banjir bandang yang terjadi pada Selasa (25/2) menghanyutkan 21 orang, sementara tiga lainnya kehilangan nyawa setelah rumah mereka roboh akibat hujan es yang begitu deras.
Di provinsi Helmand, enam orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk seorang anak yang tersambar petir. Sementara itu, di Kandahar, sembilan warga turut menjadi korban dari cuaca ekstrem ini.
Baca Juga: Belasan Siswa SD di Takalar Alami Gejala Keracunan Usai Santap Makan Bergizi Gratis
Afghanistan memang dikenal sebagai salah satu negara yang paling rentan terhadap perubahan iklim. Puluhan tahun konflik berkepanjangan membuat infrastruktur negara ini lemah, sehingga ketika bencana alam datang, dampaknya jauh lebih fatal.
Menurut data PBB, Afghanistan menduduki peringkat keenam dalam daftar negara yang paling terdampak perubahan iklim global.
Baca Juga: Dugaan Korupsi Masif oleh Pertamina dengan Oplos Pertamax, Ini Daftar 7 Tersangka!
Ancaman cuaca ekstrem di negara ini bukan sekadar hujan es atau banjir bandang. Kekeringan yang berkepanjangan, degradasi lahan, hingga menurunnya hasil pertanian menjadi tantangan serius bagi masyarakat Afghanistan.
Dampak ini semakin diperburuk oleh sistem manajemen bencana yang terbatas dan kurangnya sumber daya untuk menangani krisis yang terus berulang.
Peristiwa ini menjadi pengingat betapa perubahan iklim bukan sekadar isu masa depan, tetapi sudah nyata dan mengancam kehidupan banyak orang saat ini.
Tanpa langkah konkret untuk mengatasi dampak perubahan iklim dan meningkatkan kesiapan menghadapi bencana, masyarakat di negara-negara rentan seperti Afghanistan akan terus menjadi korban dari fenomena alam yang semakin sulit diprediksi.
Artikel Terkait
Diskon Listrik 50 Persen Akan Berakhir, Begini Nasib Token Listrik di Bulan Maret
Menteri ATR/BPN Nusron Wahid Sebut Tren Kabur Aja Dulu Tunjukkan Tanda Kurang Cinta Tanah Air Indonesia, Benarkah?
Cara Menemukan Pangkalan Resmi Gas LPG 3 Kg Terdekat dengan Mudah dan Cepat lewat Situs Pertamina
Libur Sekolah Awal Ramadan 2025 Ditetapkan 7 Hari, Siswa Diharapkan Tetap Belajar Mandiri
OJK Cabut Izin Usaha PT Asuransi Jiwasraya: Langkah Likuidasi Dimulai untuk Lindungi Nasabah Setelah Skandal Korupsi Rp16,8 Triliun
Harga Pangan Hari Ini: Cabai Merah Tembus Rp80 Ribu, Beras dan Minyak Goreng Ikut Naik
Mudik Lebaran 2025 Makin Hemat! Tiket Pesawat dan Tarif Tol Bakal Dapat Diskon
Hati-Hati dengan Pinjaman Online Ilegal: OJK Ingatkan Risiko bagi Generasi Muda
Atasi Kemacetan, Polda Metro Jaya Izinkan Bahu Jalan Tol Dalam Kota Digunakan Saat Jam Sibuk
Pemerintah Diusulkan Siapkan Pulau Khusus untuk Pengungsi Rohingya yang Berdatangan ke Aceh, Ini Alasannya!