INSIBERNEWS - PT Sri Rejeki Isman Tbk, atau yang lebih dikenal sebagai Sritex, resmi menutup operasionalnya pada Sabtu, 01/03/2025. Penutupan ini menjadi akhir dari perjalanan panjang perusahaan tekstil yang pernah menjadi kebanggaan Indonesia.
Sebelum dinyatakan pailit, Sritex telah melewati berbagai tantangan, mulai dari krisis moneter hingga kegagalan restrukturisasi utang. Bagaimana kisah lengkapnya? Simak ulasan berikut.
Baca Juga: Kemendikdasmen Pastikan Jadwal Belajar dan Libur Sekolah Ramadan 2025 Tidak Berubah
Awal Berdiri dan Masa Kejayaan Sritex
Sritex didirikan pada tahun 1966 di Sukoharjo, Jawa Tengah. Dua tahun setelah berdiri, perusahaan ini mulai menunjukkan perkembangan pesat dengan mendirikan pabrik pertamanya. Fokus utama Sritex adalah produksi kain kelantang dan celup, yang kemudian berkembang menjadi produsen tekstil terkemuka di Asia Tenggara.
Pada tahun 1994, Sritex mencapai puncak kejayaannya dengan menjadi pemasok seragam militer untuk NATO dan Tentara Jerman. Tak hanya itu, perusahaan ini juga berhasil mematenkan 300 ribu desain kain, termasuk enam desain pakaian militer. Prestasi ini semakin diperkuat dengan menjadi pemasok utama benang berkualitas tinggi untuk pabrik tekstil di berbagai negara, seperti Amerika Serikat, Spanyol, Tiongkok, dan Jepang.
Sritex juga berhasil bertahan dari krisis moneter 1998, bahkan mencatat pertumbuhan delapan kali lipat pasca-krisis. Keberhasilan ini membuat Sritex semakin diakui di kancah global.
Baca Juga: Viral! Anak Pejabat Polri Kalsel Lakukan Flexing, DPR Sebut 'Itu Memalukan!'
Penghargaan dan Pengakuan Internasional
Pasca-krisis moneter, Sritex terus menorehkan prestasi gemilang. Berbagai penghargaan bergengsi berhasil diraih, seperti:
- Businessman of the Year dari Majalah Forbes Indonesia untuk Presiden Direktur Sritex, Iwan S. Lukminto.
- Penghargaan Intellectual Property Rights Award 2015 dari World Intellectual Property Organization (WIPO).
- Top Performing Listed Companies in Textile and Garment Sector dari Majalah Investor pada 2015.
- Best of the Best Award dari Forbes Indonesia pada 2016.
Penghargaan-penghargaan ini membuktikan bahwa Sritex bukan hanya sekadar perusahaan tekstil, tetapi juga simbol kebanggaan industri Indonesia.
Baca Juga: Kabar Baik! Presiden Prabowo Bakal Turunkan Harga Tiket Pesawat dan Tarif Tol Jelang Lebaran
Krisis Keuangan dan Jatuhnya Sritex
Sayangnya, kejayaan Sritex tidak bertahan selamanya. Pada tahun 2021, perusahaan ini mulai mengalami krisis keuangan serius. Sritex gagal melunasi utang sindikasi sebesar US$350 juta (Rp5,79 triliun), yang memicu kekhawatiran para kreditur. Upaya restrukturisasi utang pun dilakukan, tetapi tidak membuahkan hasil.
Artikel Terkait
Hati-Hati dengan Pinjaman Online Ilegal: OJK Ingatkan Risiko bagi Generasi Muda
Atasi Kemacetan, Polda Metro Jaya Izinkan Bahu Jalan Tol Dalam Kota Digunakan Saat Jam Sibuk
Pemerintah Diusulkan Siapkan Pulau Khusus untuk Pengungsi Rohingya yang Berdatangan ke Aceh, Ini Alasannya!
Skandal Besar di Pertamina: Kejaksaan Agung Bongkar Kerugian Negara Rp193,7 Triliun Akibat Oplos BBM dan Impor Minyak Ilegal
Transjakarta Izinkan Penumpang Buka Puasa di Dalam Bus, Maksimal 10 Menit Setelah Adzan
Hadiah Mobil Listrik dari Erdogan untuk Prabowo Tak Wajib Dilaporkan ke KPK, Ini Alasannya
Tarif Listrik Kembali Normal Mulai Maret 2025, Diskon 50 Persen Resmi Berakhir
Kabar Baik! Presiden Prabowo Bakal Turunkan Harga Tiket Pesawat dan Tarif Tol Jelang Lebaran
Viral! Anak Pejabat Polri Kalsel Lakukan Flexing, DPR Sebut 'Itu Memalukan!'
Kemendikdasmen Pastikan Jadwal Belajar dan Libur Sekolah Ramadan 2025 Tidak Berubah