Menurutnya, metode ini tidak menyalahi ajaran Islam, karena yang terpenting adalah menjalankan puasa selama 29 atau 30 hari, sebagaimana yang diajarkan dalam agama.
"Saya meyakini perhitungan Pak Kiai. Yang penting puasanya kalau tidak 29 hari, ya 30 hari. Tidak mungkin 28 hari. Tidak ada larangan dalam Islam terkait perbedaan, yang salah ya yang tidak puasa," tambahnya.
Perbedaan penetapan Idul Fitri seperti ini memang sudah terjadi di beberapa pesantren di Indonesia, terutama yang memiliki metode perhitungan tersendiri.
Meskipun begitu, perbedaan ini tetap dihormati sebagai bagian dari keanekaragaman metode dalam Islam.