INSIBERNEWS - Perdagangan saham di bursa Tokyo pada Selasa, 26 Agustus 2025, dikejutkan oleh anjloknya harga saham Nissan Motor. Penurunan tajam ini terjadi setelah Mercedes-Benz mengumumkan telah menjual seluruh kepemilikan sahamnya di produsen mobil asal Jepang tersebut.
Mengutip laporan Reuters, saham Nissan sempat jatuh hingga 6,7 persen di sesi perdagangan sebelum akhirnya ditutup dengan pelemahan sekitar 6 persen.
Angka itu menjadi salah satu penurunan terbesar dalam beberapa bulan terakhir dan langsung menyita perhatian para pelaku pasar.
Baca Juga: Spotify Hadirkan Fitur DM, Kini Bisa Chat dan Berbagi Lagu Langsung di Aplikasi
Mercedes-Benz diketahui melepas 3,8 persen saham yang dimilikinya di Nissan. Transaksi besar itu ditaksir mencapai nilai 346 juta dolar Amerika Serikat atau sekitar Rp5,4 triliun.
Pergerakan tersebut otomatis memicu kekhawatiran investor, terlebih saat industri otomotif global tengah menghadapi tantangan besar di era transisi kendaraan listrik.
Pihak Mercedes-Benz sendiri menjelaskan bahwa pelepasan saham Nissan sebenarnya bukan keputusan yang tiba-tiba. Saham tersebut, menurut mereka, sudah lama dialihkan ke dana pensiun sejak 2016 lalu. Dengan begitu, langkah pelepasan kali ini disebut hanya formalitas penyelesaian administratif.
Baca Juga: Usai Demo Ricuh di DPR, Komdigi Panggil TikTok dan Meta Bahas Konten Provokatif
Namun, penjelasan itu belum cukup meredakan pasar. Banyak analis menilai aksi lepas saham Mercedes bisa menimbulkan spekulasi baru soal arah hubungan kedua perusahaan ke depan. Meski tidak ada lagi keterkaitan kepemilikan saham, keduanya pernah bekerja sama dalam beberapa proyek otomotif.
Investor khawatir, pelepasan saham tersebut bisa memberi sinyal kurangnya keyakinan Mercedes terhadap kinerja jangka panjang Nissan.
Di sisi lain, Nissan memang masih berjuang keras meningkatkan daya saingnya di pasar global, terutama menghadapi persaingan ketat dari produsen mobil listrik asal Tiongkok dan Amerika Serikat.
Baca Juga: Tiga Kali Gugat Cerai Mental, Andre Taulany Masih Sah Jadi Suami Erin
Kondisi ini semakin menantang karena Nissan juga sedang dalam proses restrukturisasi besar-besaran pasca-pandemi, mulai dari efisiensi produksi hingga investasi ke teknologi kendaraan ramah lingkungan. Tekanan pasar modal tentu menjadi ujian tambahan yang tak bisa diabaikan.
Meski begitu, sebagian analis menyebut pelemahan saham Nissan bersifat sementara. Mereka meyakini bahwa pasar akan kembali stabil begitu sentimen atas penjualan saham Mercedes mereda. Nissan sendiri masih memiliki basis kuat di pasar domestik Jepang serta sejumlah pangsa yang solid di Asia Tenggara.