otomotif

Mobil Bekas Rasa Baru Bikin Geger, Industri Otomotif China Diterpa Skandal Penjualan

Selasa, 3 Juni 2025 | 14:02 WIB
Ilustrasi Mobil Bekas (Istimewa)

INSIBERNEWS - Industri otomotif China kembali menjadi sorotan setelah terungkap praktik manipulasi penjualan dengan menjual mobil bekas nol kilometer.

Meski secara teknis tercatat sebagai mobil bekas, kendaraan-kendaraan ini sejatinya belum pernah digunakan di jalan raya—alias belum pernah mengaspal sama sekali. Fenomena ini memicu kekhawatiran akan kejujuran data industri dan kepercayaan konsumen yang mulai goyah.

Baca Juga: Varian Baru Covid-19 Muncul Lagi, Kemenkes Pastikan Tak Sebabkan Kematian Tinggi

Presiden Great Wall Motor, Wei Jianjun, menjadi salah satu tokoh paling vokal mengkritisi kondisi pasar saat ini. Ia menilai praktik ini tidak hanya menyesatkan konsumen, tapi juga membuat data penjualan jadi tidak akurat.

Wei menyebut industri otomotif di negaranya kini sedang berada dalam kondisi yang “tidak sehat” karena manipulasi semacam ini hanya merusak ekosistem pasar dalam jangka panjang.

Baca Juga: Aksi Brutal Komplotan Pembobol Toko Dihentikan di Tol Sidoarjo, Dua Tewas Ditembak

“Ini jelas bentuk distorsi yang menyesatkan konsumen dan melemahkan fondasi industri,” kata Wei dalam pernyataannya yang dikutip berbagai media lokal.

Praktik ini umumnya dilakukan oleh diler atau pihak ketiga yang mendaftarkan kendaraan sebagai unit terjual untuk mengejar target penjualan dari pabrik.

Setelah itu, mobil dijual kembali sebagai “mobil bekas” dengan harga lebih murah, padahal mobil tersebut belum pernah digunakan sama sekali. Strategi ini dinilai sebagai cara instan untuk memenuhi syarat mendapatkan insentif atau subsidi dari pemerintah.

Baca Juga: Heboh! Polres Lamongan Usut Grup Facebook Tertutup Soal Hubungan Sesama Jenis

Selain itu, langkah ini juga digunakan sebagai solusi cepat untuk mengurangi stok kendaraan yang menumpuk di pabrik. Pada April 2025 saja, China tercatat memiliki kelebihan pasokan hingga 3,5 juta unit secara nasional.

Dengan tekanan untuk menjaga arus produksi tetap berjalan, banyak produsen akhirnya memilih jalan pintas seperti ini untuk mengosongkan gudang.

Baca Juga: Ajang BRI Liga 1 2024 - 2025 Sukses Digelar, BRI Buktikan Sepak Bola Sebagai Sarana Sinergi Pemberdayaan Olahraga dan UMKM

Namun, dampak jangka panjangnya cukup mengkhawatirkan. Konsumen bisa kehilangan kepercayaan, nilai jual kembali kendaraan jadi tidak stabil, dan brand-brand otomotif berisiko mengalami kerugian reputasi. Pemerintah pun mulai didesak untuk turun tangan menertibkan praktik semacam ini dengan regulasi yang lebih ketat dan transparan agar industri otomotif bisa kembali sehat dan kompetitif secara wajar.

Tags

Terkini