INSIBERNEWS - Dunia sepak bola Asia tengah diguncang isu besar yang bisa mengubah peta kekuasaan olahraga ini secara drastis. Jepang, salah satu kekuatan utama sepak bola di Benua Kuning, disebut tengah mempertimbangkan untuk hengkang dari Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) dan membentuk federasi tandingan bernama East Asian Football Confederation (EAFC).
Kabar ini pertama kali mencuat dari sejumlah media olahraga Jepang yang menyebut Asosiasi Sepak Bola Jepang (JFA) mulai kehilangan kepercayaan terhadap cara AFC dikelola.
Sumber internal menyebut, langkah keluar ini bukan semata wacana, tapi sudah menjadi pembahasan serius di internal JFA selama beberapa bulan terakhir.
Baca Juga: Ilmuwan China Peringatkan Virus Flu Baru ‘Influenza D’, Diduga Sudah Bisa Menular Antar Manusia
JFA dikabarkan frustrasi dengan dominasi politik dan finansial negara-negara Teluk seperti Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab (UEA) di tubuh AFC. Dominasi tersebut dianggap telah membuat arah kebijakan federasi tidak lagi berimbang dan cenderung berpihak pada kepentingan blok Timur Tengah.
“Jepang merasa sepak bola Asia sudah tidak lagi berjalan berdasarkan meritokrasi, tapi lebih pada kekuatan uang dan politik,” tulis laporan salah satu media olahraga Jepang.
Ide pembentukan EAFC disebut mendapat respons positif dari beberapa negara tetangga seperti Korea Selatan dan China. Kedua negara itu disebut memiliki pandangan yang sama dengan Jepang mengenai perlunya sistem baru yang lebih profesional, transparan, dan adil bagi seluruh anggota.
Baca Juga: China Ungkap Siap Lanjutkan Kerja Sama Kereta Cepat Ditengah Polemik Utang Whoosh
Yang menarik, EAFC tidak hanya akan mengandalkan kekuatan Asia Timur. Jepang dikabarkan ingin mengajak negara-negara ASEAN seperti Indonesia, Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura untuk bergabung dalam aliansi baru tersebut. Dengan begitu, federasi baru ini akan memiliki kekuatan pasar dan basis suporter yang luar biasa besar.
Secara ekonomi, langkah ini bisa menjadi gebrakan besar. Kombinasi antara Jepang, Korea, China, dan negara-negara Asia Tenggara menciptakan potensi pasar sepak bola yang masif, dengan total populasi mencapai lebih dari dua miliar orang. Hal ini tentu menjadi daya tarik besar bagi sponsor global dan penyiar internasional.
Namun, rencana ini juga tidak lepas dari risiko politik dan hukum olahraga internasional. Keluar dari AFC berarti Jepang dan negara-negara yang bergabung dengan EAFC bisa berhadapan dengan sanksi dari FIFA, termasuk larangan ikut turnamen resmi seperti Piala Dunia atau Liga Champions Asia. Karena itu, langkah ini diyakini masih akan melalui proses diplomasi panjang.
Bagi Jepang, keputusan ini bukan hanya soal politik olahraga, tetapi juga tentang harga diri dan arah masa depan sepak bola kawasan. Negara dengan sistem sepak bola profesional paling maju di Asia ini merasa saatnya Asia Timur berdiri di atas kaki sendiri tanpa harus tunduk pada kekuatan finansial Timur Tengah.
Artikel Terkait
Penyaluran BLT Rp 900.000 Pecah Rekor! 35 Juta KPM Terima Bantuan Stimulus, Cek Nama Via Link Ini ...
Menanti Update Komisi Reformasi Polri, Begini Bocoran dari Yusril Ihza Mahendra
Lindungi Warga dari Ancaman Air Laut, Pemerintah Siap Bangun Tanggul Laut 535 Km di Pantura
Setahun Era Kepemimpinan Prabowo, 43 Juta Warga Sudah Cek Kesehatan Secara Gratis!
Prabowo di Sidang Kabinet Paripurna: 'Sudah 1,4 Miliar Porsi MBG Dibagikan ke Anak dan Ibu di Seluruh Indonesia'
Targetkan 500 Sekolah, Prabowo Ungkap 166 Sekolah Rakyat Sudah Berdiri untuk Putus Kemiskinan
Setahun Berjalan, Program Makan Bergizi Gratis Prabowo Serap 36,7 Juta Tenaga Kerja dan Libatkan Ribuan UMKM Lokal
Bahlil Kenang Masa Sulit Saat Kuliah, Sebut Program Makan Bergizi Gratis Sebagai Langkah Mulia Pemerintah
China Ungkap Siap Lanjutkan Kerja Sama Kereta Cepat Ditengah Polemik Utang Whoosh
Ilmuwan China Peringatkan Virus Flu Baru ‘Influenza D’, Diduga Sudah Bisa Menular Antar Manusia