INSIBERNEWS - Federasi Sepak Bola Malaysia (FAM) tengah diterpa badai besar usai FIFA resmi menjatuhkan sanksi berat terkait dugaan pemalsuan dokumen naturalisasi tujuh pemain asing. Kasus ini langsung menjadi sorotan publik negeri jiran, bahkan memicu tudingan liar ke arah Indonesia.
FIFA, lewat keterangan resminya pada Jumat (26/9), menyatakan bahwa FAM melanggar Pasal 22 Kode Disiplin FIFA mengenai pemalsuan dokumen resmi.
Hukuman ini disebut sebagai salah satu yang paling serius karena menyangkut integritas kompetisi internasional.
Baca Juga: Pasar Saham Asia Bergerak Hati-Hati Jelang Potensi Shutdown AS
Tujuh nama pemain yang terjerat dalam kasus ini antara lain Facundo Garces, Jon Irazabal, Hector Hevel, Joao Figueiredo, Imanol Machuca, Rodrigo Holgado, dan Gabriel Palmero. Mereka sebelumnya telah menjalani proses naturalisasi untuk memperkuat timnas Malaysia dalam berbagai ajang.
Namun, skandal ini tidak berhenti pada sanksi FIFA semata. Putra Mahkota Johor sekaligus pemilik klub Johor Darul Ta’zim (JDT), Tunku Ismail Idris, melempar tuduhan mengejutkan. Ia menyebut ada campur tangan pihak luar, termasuk Indonesia, dalam mengungkap kasus ini.
Nama Indonesia ikut terseret lantaran Presiden RI, Prabowo Subianto, sempat bertemu Presiden FIFA, Gianni Infantino, beberapa waktu lalu. Pertemuan itu dianggap sebagian pihak Malaysia sebagai celah yang memunculkan dugaan adanya tekanan diplomatik terhadap FIFA.
Baca Juga: Ustaz di Bekasi Diciduk Polisi, Diduga Cabuli Anak Angkat dan Keponakan Selama Bertahun-tahun
Menanggapi tudingan tersebut, Menteri Pemuda dan Olahraga RI sekaligus Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan Indonesia sama sekali tidak terlibat dalam kasus pemalsuan dokumen pemain naturalisasi Malaysia.
“Tidak ada urusannya Indonesia dengan persoalan internal FAM. Fokus kita adalah membangun prestasi olahraga nasional, bukan mengurusi masalah negara lain,” tegas Erick, Minggu (28/9).
Erick menambahkan bahwa tudingan yang dialamatkan kepada Indonesia tidak berdasar. Menurutnya, kebijakan olahraga di tanah air saat ini diarahkan pada penguatan infrastruktur, pembinaan usia muda, hingga persiapan event besar seperti Piala Dunia U-20 dan Olimpiade.
Baca Juga: Polda Metro dan Bea Cukai Gagalkan Peredaran 15 Kg Ganja di Bekasi, Satu Pelaku Ditangkap
Di sisi lain, publik Malaysia kini mendesak FAM untuk lebih transparan dalam menjelaskan kronologi kasus tersebut. Skandal ini dikhawatirkan akan memperburuk citra sepak bola Malaysia, terlebih setelah FIFA memastikan adanya pelanggaran yang berhubungan dengan manipulasi dokumen resmi.
Sementara itu, di Indonesia, kasus ini dipandang sebagai pelajaran berharga agar PSSI lebih berhati-hati dalam menjalankan program naturalisasi pemain. Meski sering dipandang sebagai jalan pintas meningkatkan kualitas timnas, proses tersebut wajib dilakukan dengan penuh kehati-hatian agar tidak berujung masalah serupa di kemudian hari.***
Artikel Terkait
Janji Patrick Kluivert: Siap Bikin Tato Jika Timnas Indonesia Tembus Piala Dunia 2026
Asrama Santri di Sidoarjo Ambruk, Evakuasi Masih Berlangsung dengan Alat Berat
Prabowo Perintahkan Operasi Besar Tutup Ribuan Tambang Timah Ilegal di Bangka Belitung
Buat Pemula, Jangan Lakukan Ini Kalau Baru Mulai Jadi Affiliator!
Snapchat Batasi Penyimpanan Memori, Hadirkan Paket Berbayar Hingga 5TB
Prabowo Canangkan 2.000 Desa Nelayan dan Cetak Sawah Baru, Target Sejahterakan Jutaan Warga
Polda Metro dan Bea Cukai Gagalkan Peredaran 15 Kg Ganja di Bekasi, Satu Pelaku Ditangkap
Ustaz di Bekasi Diciduk Polisi, Diduga Cabuli Anak Angkat dan Keponakan Selama Bertahun-tahun
Intervensi BI Belum Ampuh, Rupiah Berisiko Menyentuh Rp 17.000
Pasar Saham Asia Bergerak Hati-Hati Jelang Potensi Shutdown AS