INSIBERNEWS - Menurut hasil penelitian terbaru yang dilakukan oleh konsultan Inverto, dampak kerusakan iklim telah memicu lonjakan tajam harga pangan global.
Penelitian ini menunjukkan bahwa cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang tidak terduga sepanjang tahun 2024, yang bahkan berlanjut hingga Januari 2025, telah menyebabkan ketidakstabilan pasokan pangan dan mengancam ketahanan pangan dunia.
Baca Juga: Ruben Amorim Akui Tantangan Kembali Menang Usai Kalah 0-1 dari Tottenham
Beberapa lembaga meteorologi bahkan telah mencatat bahwa 2024 merupakan tahun dengan suhu tertinggi dalam sejarah. Suhu ekstrem ini diperkirakan akan terus berlanjut sepanjang 2025, dengan peristiwa cuaca yang semakin sering terjadi.
Inverto memperkirakan bahwa cuaca ekstrem yang lebih sering akan terus memengaruhi hasil pertanian, membuat harga pangan sulit terkendali dan terus meningkat tajam.
Baca Juga: Prabowo Akan Amnesti 19 Ribu Narapidana, Diumumkan Sebelum Lebaran
Dalam temuan lebih lanjut, kenaikan harga paling tajam terjadi pada komoditas kakao dan kopi, yang mencatatkan lonjakan harga masing-masing sebesar 163 persen dan 103 persen.
Kenaikan harga ini disebabkan oleh kombinasi cuaca yang ekstrem, dengan hujan lebat dan suhu tinggi yang memengaruhi daerah penghasil utama kedua komoditas tersebut.
Baca Juga: Diskon Listrik 50 Persen Akan Berakhir, Begini Nasib Token Listrik di Bulan Maret
Selain itu, harga minyak bunga matahari juga melambung hingga 56 persen akibat kekeringan panjang yang menghancurkan hasil panen di Bulgaria dan Ukraina, yang ditambah lagi dengan dampak dari invasi Rusia.
Komoditas pangan lain yang mengalami lonjakan signifikan adalah jus jeruk dan mentega, yang naik lebih dari sepertiga, serta harga daging sapi yang melonjak lebih dari 25 persen.
Baca Juga: Hotman Paris Diperiksa Sebagai Saksi Terkait Kegaduhan Sidang, Ini Penjelasannya!
Katharina Erfort, seorang ahli dari Inverto, mengingatkan produsen pangan dan pengecer untuk segera menyesuaikan strategi pengadaan dan rantai pasokan mereka.
"Untuk mengurangi dampak dari ketergantungan pada satu wilayah yang rentan terhadap bencana alam dan kegagalan panen, produsen harus mendiversifikasi sumber pasokan mereka," jelas Erfort.