INSIBERNEWS - Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Gedung Putih, mantan Presiden AS Donald Trump mengungkapkan rencana kontroversial terkait Jalur Gaza.
Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat akan mengambil alih wilayah tersebut serta bertanggung jawab atas proses rekonstruksi dan pembersihan senjata yang masih berserakan akibat konflik.
Baca Juga: Tragis! Pegawai Bank Keliling Dibunuh Nasabah di Bekasi, Jasadnya Disembunyikan di Kamar
Pernyataan ini disampaikan dalam konferensi pers pada Selasa (4/2), di tengah situasi gencatan senjata antara Israel dan Hamas.
Berdiri di samping Netanyahu, Trump menegaskan bahwa Washington akan menghapus seluruh ancaman bom yang belum meledak, serta meratakan bangunan yang telah hancur akibat perang.
Baca Juga: G-Dragon Siap Comeback! Album Ubermensch Bakal Rilis Akhir Februari
Lebih lanjut, ia menjanjikan pembangunan infrastruktur yang lebih modern, termasuk penyediaan lapangan kerja dan perumahan bagi penduduk Gaza. Namun, rencana ini memicu berbagai spekulasi terkait keterlibatan langsung AS dalam pengelolaan wilayah tersebut.
Baca Juga: Agnez Mo Kena Vonis! Terbukti Langgar Hak Cipta, Wajib Bayar Rp1,5 Miliar
Selain membahas upaya rekonstruksi Gaza, Trump juga kembali mengangkat wacana relokasi warga Palestina ke negara-negara Timur Tengah, termasuk Mesir dan Yordania.
Gagasan ini mendapat reaksi keras dari berbagai pihak, termasuk otoritas Palestina yang menolak pemindahan warganya dari tanah kelahiran mereka.
Baca Juga: Kemenhub Soroti Kecelakaan Maut di Tol Ciawi, Dugaan Rem Blong Masih Diselidiki
Sementara itu, Mesir dan Yordania telah lebih dulu menyatakan penolakan terhadap rencana tersebut, menegaskan bahwa solusi terbaik adalah penyelesaian konflik, bukan pengusiran warga.
Pertemuan ini berlangsung di saat Israel dan Hamas sedang memasuki fase pertama gencatan senjata, dengan negosiasi lanjutan yang direncanakan dalam waktu dekat.
Baca Juga: Tragis! Truk Muatan Galon Alami Rem Blong Di GT Ciawi Hingga Hantam Mobil Lain, 6 Orang Tewas