INSIBERNEWS - Laporan awal yang dirilis oleh otoritas Korea Selatan pada 27 Januari mengungkapkan temuan mengejutkan mengenai kecelakaan pesawat Jeju Air yang terjadi pada 29 Desember 2023.
Mesin pesawat Boeing 737-800 yang jatuh mengandung DNA dari Baikal Teals, sejenis bebek migrasi yang sering ditemukan di Korea Selatan selama musim dingin.
Temuan ini mengarah pada kemungkinan adanya tabrakan burung yang turut berperan dalam kecelakaan tersebut, meskipun penyebab pasti dari bencana ini masih dalam penyelidikan lebih lanjut.
Kronologi Kecelakaan dan Temuan Awal
Penerbangan Jeju Air yang berangkat dari Bangkok mengalami kecelakaan saat melakukan pendaratan darurat di Bandara Muan, Korea Selatan. Pesawat tersebut menabrak tanggul yang berisi peralatan navigasi, mengakibatkan kebakaran dan ledakan parsial. Tanggul yang menopang sistem lokalizer—peralatan navigasi yang membantu pesawat mendekati landasan pacu—diyakini berkontribusi pada tingginya jumlah korban tewas, dengan pesawat terpecah dan tersebar hingga jarak 200 meter dari titik tabrakan.
Laporan yang dikeluarkan tidak menyimpulkan apakah tabrakan burung atau faktor lain menjadi penyebab utama kecelakaan, tetapi menyebutkan bahwa pilot melaporkan adanya sekawanan burung saat melakukan pendekatan terakhir pesawat. Pilot mengirimkan pernyataan darurat (Mayday) tiga kali karena tabrakan burung yang terjadi saat pesawat berputar-putar. Namun, waktu tabrakan burung itu masih belum dapat dikonfirmasi.
Masalah dengan Perekam Data Penerbangan
Selain itu, laporan juga mengungkapkan bahwa Perekam Suara Kokpit (CVR) dan Perekam Data Penerbangan (FDR) berhenti merekam empat menit sebelum pesawat mengalami kecelakaan. Pesawat saat itu terbang pada ketinggian 498 kaki dan kecepatan 161 knot, sekitar 2 kilometer dari landasan pacu. Kejadian ini meningkatkan pertanyaan tentang apa yang menyebabkan penghentian rekaman data ini, yang penting untuk analisis kecelakaan.
Langkah Selanjutnya dalam Penyelidikan
Penyelidikan lebih lanjut akan melibatkan pembongkaran mesin pesawat dan pemeriksaan mendalam terhadap komponen-komponennya, serta analisis data penerbangan dan kontrol lalu lintas udara. Penyidik juga akan menyelidiki kemungkinan tabrakan burung dan mengevaluasi lokasi pendaratan, tanggul, dan kondisi landasan pacu.
Laporan ini diserahkan kepada Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO), serta negara-negara terkait, termasuk Thailand, Amerika Serikat, dan Prancis, yang merupakan negara asal produsen pesawat dan mesin.
Laporan akhir diharapkan dapat dipublikasikan dalam waktu 12 bulan, namun temuan awal ini memberikan wawasan penting mengenai faktor-faktor yang mungkin menyebabkan kecelakaan yang merenggut nyawa 179 orang dari 181 penumpang dan awak pesawat tersebut.