INSIBERNEWS - Harga minyak mentah global mengalami penurunan pada Senin (23/12/2024), tertekan oleh sejumlah faktor yang membayangi pasar.
Kekhawatiran mengenai surplus pasokan di tahun 2025 serta penguatan nilai tukar dolar AS menjadi pemicu utama pelemahan ini, terutama di tengah perdagangan yang cenderung sepi menjelang libur akhir tahun.
Baca Juga: Menteri PKP Usulkan Porsi FLPP Dibagi Rata: Beban Negara Ringan, Manfaat Lebih Luas
Kontrak berjangka minyak jenis Brent tercatat turun 0,85 persen ke USD72,32 per barel, sementara minyak WTI melemah 0,32 persen ke USD69,24 per barel.
Para analis pasar mencermati potensi kelebihan pasokan minyak yang semakin nyata di tahun depan. Selain itu, dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam dua tahun terakhir menambah tekanan, karena membuat harga minyak lebih mahal bagi pembeli internasional.
Baca Juga: Polandia Siap Tangkap Netanyahu Jika Hadiri Peringatan Pembebasan Auschwitz
"Penguatan dolar AS ini membuat banyak pembeli memilih menunggu, terutama ketika permintaan belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan signifikan," ujar Dennis Kissler dari BOK Financial.
Baca Juga: Andi Agtas Jelaskan Pernyataan Prabowo Soal Koruptor: Bukan untuk Membebaskan Pelaku
Meskipun demikian, ada sedikit kabar baik dengan kembali beroperasinya pipa Druzhba, yang mengangkut minyak dari Rusia dan Kazakhstan ke sejumlah wilayah di Eropa.
Masalah teknis yang sebelumnya mengganggu aliran minyak kini telah berhasil diatasi. Namun, sentimen positif ini tidak cukup untuk membalikkan tekanan besar pada pasar akibat faktor-faktor makro lainnya, seperti prediksi Sinopec bahwa konsumsi minyak di China akan mencapai puncaknya pada 2027, yang meredupkan prospek permintaan jangka panjang.
Baca Juga: Donald Trump Beri Sinyal Dukung TikTok Bertahan di Amerika Serikat
Ketegangan geopolitik juga menjadi elemen yang memengaruhi pasar energi global. Pernyataan Donald Trump yang mendesak Uni Eropa meningkatkan impor energi dari AS atau menghadapi ancaman tarif baru memanaskan suasana.
Di sisi lain, kritik Trump terhadap tarif transit di kanal Panama memicu respons keras dari pemerintah Panama, menambah dinamika politik yang turut membayangi harga minyak.
Baca Juga: Warga Karawang Geger! Ditemukan Mayat Pria Tanpa Identitas yang Nyangkut di tumpukan Eceng Gondok