INSIBERNEWS - Setelah pekan yang penuh dengan kekerasan, ribuan warga Lebanon mulai kembali ke rumah mereka di wilayah selatan negara itu setelah kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hizbullah mulai berlaku pada pukul 4 pagi (waktu setempat) pada hari Rabu.
Gencatan senjata yang ditengahi oleh Amerika Serikat ini memberi sedikit harapan setelah serangan Israel yang menewaskan setidaknya 42 orang di Beirut dan Lebanon selatan pada hari Selasa.
Serangan Israel yang Berlanjut
Meskipun gencatan senjata sudah disepakati, Israel terus melanjutkan serangan-serangan udara yang bertubi-tubi di Beirut dan Lebanon selatan hingga hari Rabu pagi.
Serangan tersebut menyebabkan banyak korban jiwa, dan memperburuk kondisi di daerah-daerah yang sudah lama bergolak.
Pada Selasa, serangan militer Israel mengakibatkan jatuhnya sedikitnya 42 korban jiwa, semakin menambah penderitaan bagi masyarakat Lebanon yang sudah lama terperosok dalam krisis.
Kepulangan Warga yang Terlantar
Setelah kesepakatan gencatan senjata tercapai, ribuan warga yang sebelumnya mengungsi dari wilayah yang terdampak kembali berupaya pulang ke rumah mereka.
Mereka mengendarai mobil yang penuh dengan barang-barang pribadi, berharap bisa kembali ke kehidupan normal mereka.
Namun, ketegangan tetap terasa, karena meskipun gencatan senjata telah dimulai, masih ada kekhawatiran di kedua belah pihak tentang apakah kesepakatan tersebut akan bertahan dalam waktu lama.
Peringatan dari Israel dan Lebanon
Meski banyak warga kembali ke rumah mereka, Israel mengeluarkan peringatan agar warga tetap menjauh dari beberapa daerah yang masih berada dalam jangkauan pasukan Israel.
Tentara Israel juga menekankan bahwa mereka tetap berada di beberapa daerah strategis di Lebanon selatan.
Sementara itu, militer Lebanon meminta para pengungsi untuk menghindari kota-kota dan desa-desa yang terletak di dekat garis depan, terutama daerah-daerah yang berbatasan langsung dengan "garis biru," batas yang ditetapkan oleh PBB antara Lebanon dan Israel.
Militer Lebanon berusaha memperkuat posisinya di sektor Litani Selatan dan bekerja sama dengan Pasukan Sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa di Lebanon (UNIFIL) untuk menjaga stabilitas dan memastikan keselamatan warga yang baru kembali.