INSIBERNEWS - Setelah berbulan-bulan konflik yang menegangkan, Israel dan Lebanon akhirnya menyepakati gencatan senjata sementara yang akan berlangsung selama 60 hari.
Kesepakatan ini menjadi titik terang setelah berbagai upaya diplomatik, khususnya dari Amerika Serikat, berhasil mendamaikan kedua pihak.
Baca Juga: Soal Kapan Pengumuman Hasil Pilkada 2024, KPU Bakal Umumkan Secara Bertahap
Pengumuman resmi gencatan senjata ini disampaikan oleh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, melalui kantornya pada Rabu (27/11/2024).
Dalam pernyataannya, Netanyahu mengungkapkan bahwa Kabinet Keamanan Israel menyetujui usulan Amerika Serikat tersebut dengan suara mayoritas.
Baca Juga: Iris Wullur Klarifikasi Ekspresi Viral Saat Minum Air Zamzam, Minta Maaf ke Publik
"Israel menghargai peran signifikan Amerika Serikat dalam menciptakan kesepakatan ini. Namun, kami tetap berkomitmen untuk menjaga keamanan negara dan berhak mengambil tindakan jika ada ancaman," bunyi pernyataan resmi kantor Netanyahu.
Kesepakatan ini mencakup penarikan pasukan Israel dari wilayah Lebanon dalam waktu 60 hari. Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, sebelumnya mengungkapkan bahwa gencatan senjata ini merupakan hasil mediasi intensif yang melibatkan utusan khusus untuk Timur Tengah, Amos Hochstein.
Biden juga menyampaikan harapannya agar langkah ini menjadi awal dari perdamaian yang lebih panjang antara kedua negara yang kerap bersitegang.
Di sisi lain, Perdana Menteri Lebanon, Najib Mikati, menyambut baik kesepakatan ini. Melalui unggahannya di media sosial, Mikati mengapresiasi peran AS dan Prancis dalam proses mediasi.
"Kami berterima kasih atas dukungan mereka, terutama Presiden Biden dan Utusan Hochstein. Langkah ini menjadi harapan baru bagi Lebanon," tulis Mikati.
Baca Juga: Aksi Kekerasan Warnai Pemungutan Suara Pilkada di Bima, Ketua KPPS Dibacok oleh Pemilih