Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok telah meningkatkan tekanan militer terhadap Taiwan, termasuk serangkaian latihan perang yang mengancam stabilitas di kawasan Asia-Pasifik.
Meskipun begitu, Taiwan berusaha untuk tetap berperan aktif dalam forum internasional seperti APEC, meskipun mereka harus menerima pengakuan terbatas sebagai "Tiongkok Taipei."
Sementara itu, Tiongkok berusaha mencegah Taiwan dari mendapat pengakuan internasional penuh, bahkan melalui cara-cara yang lebih agresif, seperti menekan negara-negara lain untuk tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan.
Baca Juga: Filipina Percaya Aliansi AS Akan Tetap Kuat di Bawah Trump, Hadapi Ketegangan Laut Cina Selatan!
Kekhawatiran Terhadap APEC 2026
Salah satu topik penting yang muncul dalam pertemuan APEC kali ini adalah pengumuman Xi Jinping bahwa Tiongkok akan menjadi tuan rumah APEC pada tahun 2026.
Pengumuman ini membuat pemerintah Taiwan khawatir, terutama setelah Beijing mengeluarkan pedoman hukum baru pada Juni lalu yang mengancam dengan hukuman mati terhadap "separatis Taiwan" yang dianggap "keras kepala."
Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Keamanan Nasional Taiwan, Hsu Szu-Chien, menyatakan bahwa ada "berbagai macam kekhawatiran" terkait dengan Beijing yang menjadi tuan rumah forum tersebut.
Salah satunya adalah ketakutan bahwa pedoman hukum Tiongkok yang baru tersebut bisa memengaruhi bukan hanya pejabat Taiwan di Tiongkok, tetapi juga pejabat dari negara-negara APEC lainnya yang memiliki hubungan dengan Taiwan.
"Anggota APEC lainnya juga memiliki kekhawatiran serupa, jadi fakta bahwa konsensus telah dicapai (mengenai Tiongkok yang menjadi tuan rumah forum) berarti Beijing telah membuat janji sebagai tanggapan atas kekhawatiran semua anggota yang relevan," ujar Hsu.
Taiwan dan Tiongkok: Diplomasi yang Penuh Tantangan
Ke depan, hubungan antara Taiwan dan Tiongkok diperkirakan akan semakin teruji, terutama dengan semakin kuatnya pengaruh Beijing di arena internasional.
Sementara itu, Taiwan akan terus berusaha menjaga ruang diplomatik mereka, meski harus beroperasi dalam keterbatasan.
Momen lambaian tangan antara Lin Hsin-i dan Xi Jinping di APEC hanya memperlihatkan betapa rapuhnya hubungan antara kedua belah pihak, di mana dialog yang lebih substansial tampaknya masih jauh dari jangkauan.
Dengan Beijing yang semakin menekan Taiwan di berbagai level internasional dan domestik, dan dengan Taiwan yang berusaha memperkuat dukungan internasional melalui forum seperti APEC, ketegangan ini tampaknya akan terus berlanjut.
Forum-forum seperti APEC memberikan sedikit ruang untuk interaksi, namun tidak pernah cukup untuk mencairkan ketegangan politik yang mendalam.