Pendemo yang menyangkal Andovi menjelaskan bahwa aksi pendemo yang mencoret pagar gedung DPR merupakan sebuah luapan rakyat kepada DPR.
"Ini bukan kita anarkis, tapi kita meluapkan. Ayo kita berdebat tentang bagaimana mereka memakai anggaran seperti itu," ucap pendemo.
Andovi berusaha menjelaskan kembali maksud tindakannya yang meminta pendemo untuk tidak mencorat-coret pagar.
"Saya setuju itu bukan anarkis, tapi ketika emosi sudah begini. Kita mencoba menenangkan diri sebisa mungkin," ucap Andovi.
Baca Juga: Resep Gochujang Ayam Pedas yang Bikin Ketagihan, Mudah Dibuat di Rumah!
"Demo itu bagian dari ekspresi kita, anda mengalami 98 gak?,"
"Saya tidak mengalami 98," ujar Andovi
"Kami melayangkan nyawa kami, kalau cuma sekedar vandalisme seperti ini. Kecil artinya,"
Sejumlah pendemo yang menyaksikan berusaha mendamaikan perdebatan antara Andovi dan pendemo tahun 98.
Baca Juga: Film Bioskop Indonesia Ini Tayang di Netflix, Ada Dua Hati Biru!
"Teman-teman ini bukan pembatasan epskpresi kita, ini adalah ekspresi kita yang selama ini tertutup oleh mereka," tegas pendemo 98.
"Iya kita paham pak," ujar massa kembali menenangkan.
Setelah dibantu pendemo lain untuk tenang semetara Andovi da Lopez juga beberapa kali sudah meminta maaf.
Pendemo dan Andovi da Lopez pun akhirnya setuju dan melanjutkan aksi di depan gedung DPR RI dengan satu tujuan yang sama, medesak DPR RI.***