INSIBERNEWS - Upaya penyelundupan imigran gelap melintasi batas negara kembali digagalkan oleh aparat kepolisian.
Kepolisian Daerah (Polda) Nusa Tenggara Timur (NTT) sukses mengendus dan memutus pelarian dua Warga Negara Asing (WNA) asal India dan Sri Lanka yang bermimpi menginjakkan kaki di Benua Australia melalui perairan Rote Ndao.
Penangkapan ini merupakan buah operasi gabungan dari Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak dan Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA dan PPO) Polda NTT bersama Polsek KP3 Laut Bolok.
Selain menahan kedua warga asing tersebut, polisi juga menggelandang seorang Warga Negara Indonesia (WNI) berinisial DEL alias P yang tertangkap basah berperan sebagai pemandu jalan pada Senin siang, sekitar pukul 12.30 WITA.
Baca Juga: Aksi Dramatis Penyelam BSG Pecahkan Kaca Virgo Transport 8, Basarnas Perpanjang Pencarian 125 Korban
"Benar, jajaran Ditres PPA dan PPO Polda NTT berkoordinasi dengan Polsek KP3 Laut Bolok berhasil mengamankan dua WNA asal India dan Sri Lanka serta seorang WNI berinisial DEL alias P yang bertindak sebagai pemandu lapangan," terang Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra di Kupang, Senin (21/9/2026).
Terbongkarnya skandal pelarian ini bermula dari bocornya informasi rencana penyeberangan rombongan tersebut di Pelabuhan Ferry ASDP Bolok, Kabupaten Kupang.
Saat diadang dan diinterogasi petugas, kedua ekspatriat itu sempat berkilah dengan alasan kehilangan dokumen keimigrasian fisik.
Namun, alibi bodong itu seketika runtuh setelah aparat menemukan salinan paspor mereka yang sengaja disimpan di dalam telepon pintar milik sang pemandu lokal.
Baca Juga: Terseret Pusaran OTT KPK, Pijakan Politik Nusron Wahid Goyah Usai Mundur dari Elite Golkar
Pemeriksaan terhadap barang bukti elektronik tersebut ternyata membuka kotak pandora yang lebih besar.
Polisi menemukan jejak percakapan intens dan bukti aliran dana dari seorang donatur berinisial R yang bermukim di Nusa Tenggara Barat (NTB).
Sosok misterius ini diduga kuat menjadi otak sekaligus penyandang dana yang merancang seluruh operasi pelarian lintas pulau tersebut.
Dari pelacakan digital itu pula, rute pelarian yang dirancang R terkuak dengan sangat terstruktur.
Modusnya menggunakan perjalanan estafet mulai dari Sape di NTB, bersandar di Aimere Flores, berlanjut ke Kupang dan Rote Ndao, untuk kemudian dijadwalkan menyeberang secara diam-diam menuju perairan Australia.
Guna membongkar tuntas akar sindikat ini, kedua WNA tersebut kini tengah diinterogasi maraton dengan bantuan penerjemah bahasa Inggris.
"Polda NTT berkomitmen tegas untuk menindak segala bentuk tindak pidana keimigrasian dan kejahatan perdagangan maupun penyelundupan manusia yang memanfaatkan wilayah NTT sebagai jalur transit ilegal," pungkas Henry memberikan peringatan keras.(*)