INSIBERNEWS - Kasus meninggalnya Sutrimo, pria yang belakangan santer disebut sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga) dari mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, kini memasuki babak baru.
Kecurigaan publik atas kondisi tragis korban saat ditemukan tergeletak tak berdaya di depan Klinik Kecantikan Mordent, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, akhirnya berujung pada pelaporan resmi ke Bareskrim Polri.
Merespons adanya dugaan kematian tak wajar tersebut, pihak kepolisian kini tengah mematangkan persiapan teknis untuk membongkar kembali makam almarhum guna kepentingan autopsi.
Rencana pembongkaran makam atau ekshumasi ini dinilai krusial untuk menguak teka-teki medis secara saintifik di balik penyebab hilangnya nyawa Sutrimo. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Budi Hermanto, membenarkan bahwa penyidik bergerak proaktif menindaklanjuti laporan masyarakat yang mencium rentetan kejanggalan pada insiden ini.
"Akan disegerakan (ekshumasi) guna mengetahui penyebab kematian," ujar Budi saat memberikan keterangan resminya kepada awak media pada Minggu (9/8/2026).
Sebelum melangkah lebih jauh pada proses penggalian jenazah, penyidik juga berencana menggali keterangan krusial dari tenaga medis yang pertama kali bersentuhan langsung dengan korban.
Kepolisian telah menjadwalkan ulang agenda pemanggilan terhadap dokter dari RS Muhammadiyah Taman Puring, yang sebelumnya sempat berhalangan hadir, untuk dimintai kesaksian lengkap seputar rekam medis dan kondisi fisik Sutrimo saat tiba di ruang gawat darurat.
Baca Juga: Naik Transportasi Umum di Jakarta Cuma Rp1 Saat HUT RI ke-81, Ini Jadwal dan Ketentuannya
Pemanggilan tenaga kesehatan tersebut menjadi kunci utama bagi penyidik untuk merangkai kepingan fakta di menit-menit kritis penyelamatan korban.
"Minggu depan kami masih akan melakukan pemanggilan terhadap dokter Rumah Sakit Muhammadiyah yang menangani pertama kali pada saat pasien datang ke rumah sakit," tegas Budi.
Keterangan medis ini dipandang sangat vital mengingat derasnya rumor di media sosial yang menyebutkan bahwa korban ditemukan dengan kondisi mulut mengeluarkan busa, yang hingga kini kebenarannya masih terus diverifikasi.
Di samping mengandalkan keterangan saksi mata dan konfirmasi medis, tim penyidik Polda Metro Jaya juga tengah menyisir berbagai jejak digital yang telah kadung beredar luas di dunia maya.
Sejumlah foto dan potongan video yang memperlihatkan situasi mobil ambulans, proses pemindahan tubuh korban menggunakan keranda jenazah, hingga rekaman kamera pengawas (CCTV) di sekitar lokasi penemuan, kini telah dikantongi polisi sebagai bahan analisis mendalam.
Kendati demikian, aparat penegak hukum menegaskan bahwa mereka tidak akan menelan mentah-mentah semua konten visual tersebut sebagai fakta hukum yang sah tanpa adanya proses pencocokan.
"Harus kita klarifikasi apakah benar itu kondisi awal, benar atau tidak itu merupakan sosok almarhum S. Termasuk video-video yang beredar mengenai ambulans, keranda jenazah yang dibawa, serta rekaman CCTV. Ini kan harus ditemukan persesuaiannya oleh teman-teman penyidik," jelas Budi sebelumnya pada Jumat (31/7/2026).
Sebagai kilas balik, tragedi nahas yang menimpa Sutrimo bermula pada Kamis (23/7/2026) silam, ketika ia secara mengejutkan ditemukan terkapar hilang kesadaran di trotoar kawasan Kebayoran Baru.
Warga sekitar yang panik seketika melarikan pria tersebut ke RS Muhammadiyah Taman Puring dengan harapan mendapat pertolongan darurat.
Namun, takdir berkata lain karena tim dokter menyatakan korban telah menghembuskan napas terakhir setibanya di sana. Kini, publik terus menanti hasil penyelidikan komprehensif kepolisian untuk memastikan kebenaran di balik penyebab kematiannya.***