news

Kemhan Ungkap Kronologi Wafatnya 5 Peserta Calon Manajer Kopdes , Masing-Masing Miliki Riwayat Medis Berbeda

Sabtu, 27 Juni 2026 | 14:18 WIB
Kemhan Beberkan Rekam Medis Lima Peserta yang Gugur (Dok. Bapanas)

INSIBERNEWS - Kementerian Pertahanan Republik Indonesia akhirnya buka suara guna meluruskan simpang siur terkait musibah runtuhnya fisik lima peserta Program Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih).

Para calon manajer ini dilaporkan mengembuskan napas terakhir secara tragis dalam rentang waktu yang berdekatan saat tengah menempuh pendidikan dasar militer di beberapa satuan pendidikan yang berbeda.

Dalam rilis resminya, otoritas menegaskan bahwa setiap individu yang gugur menghadapi serangan klinis serta komplikasi patologis yang bervariasi, bukan disebabkan oleh satu faktor tunggal yang seragam.

Baca Juga: OJK Beberkan Dampak Pelemahan Rupiah, Stabilitas Perbankan Dipastikan Masih Aman

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kemhan, Mayjen Ketut, memastikan bahwa penanganan darurat di lapangan telah diupayakan semaksimal mungkin sesuai dengan prosedur baku penyelamatan jiwa.

"Kelima peserta tersebut memiliki karakter dan kondisi medis yang berbeda-beda. Seluruh peserta telah mendapatkan penanganan medis sesuai prosedur, baik di fasilitas kesehatan satuan maupun rumah sakit rujukan," jelas Ketut dalam sebuah konferensi pers berkala yang digelar di kantor Kemhan RI, Jakarta, Sabtu (27/6/2026).

Ia juga menepis isu kelalaian administrasi dengan melampirkan bukti bahwa seluruh regimen pengujian laborat mulai dari rekam jantung (EKG), rontgen dada, hingga skrining kesehatan jiwa telah dilewati oleh seluruh peserta dengan status memenuhi syarat sebelum pemberangkatan ke barak latihan.

Baca Juga: Ramai Soal Pajak Dana JHT, Menkeu Janji Tinjau Lagi Aturan Bersama Ditjen Pajak

Rentetan kedukaan ini bermula dari gugurnya almarhum Yonanda Muhammad Taufiq di wilayah Pusdiklatpur Baturaja pada Rabu (17/6) pasca-mengikuti agenda orientasi medan jelang petang.

Petugas medis yang mendeteksi ambruknya kesadaran korban sempat melarikan pemuda tersebut ke RS dr. Noesmir, sebelum tim dokter akhirnya memvonis gagalnya fungsi pompa jantung (cardiac arrest) sebagai pemicu utama kematiannya.

Selang satu hari, awan mendung bergeser ke Satdik Rindam VI/Mulawarman Balikpapan yang merenggut nyawa peserta kedua, Anisa Muyassaroh, akibat serangan sengatan panas ekstrem (heat stroke).

Korban yang sempat mengeluhkan sesak napas serta mual sesaat sebelum jam kelas dimulai langsung dievakuasi ke RS dr. R. Hardjanto, namun kondisi biologisnya terus merosot tajam hingga dinyatakan berpulang pada pukul 19.00 WITA.

Baca Juga: Respon Istana soal Latsarmil SPPI yang Telan 3 Korban Jiwa, Mensesneg: Belum Ada Indikasi Kelalaian

"Berdasarkan diagnosis dokter, penyebab kematian adalah cardiac arrest atau henti jantung," imbuh Ketut merinci kasus pertama.

Halaman:

Tags

Terkini