INSIBERNEWS - Upaya meredakan konflik di kawasan Timur Tengah kembali menghadapi hambatan setelah Hizbullah secara terbuka menolak kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi oleh Amerika Serikat antara Israel dan pemerintah Lebanon.
Penolakan itu disampaikan hanya beberapa jam setelah kesepakatan diumumkan kepada publik.
Pimpinan Hizbullah menilai isi perjanjian tersebut tidak memberikan keseimbangan bagi semua pihak yang terlibat.
Kelompok itu beranggapan kesepakatan lebih menguntungkan Israel dan berpotensi melemahkan posisi mereka di wilayah selatan Lebanon.
“Kesepakatan ini dianggap sebagai bentuk penyerahan diri dan tidak mencerminkan kepentingan rakyat Lebanon,” demikian pernyataan yang disampaikan Hizbullah seperti dikutip sejumlah media internasional.
Baca Juga: BPJS Kesehatan Terapkan Ketentuan Baru, Jadwal Kontrol Kini Lebih Diperketat
Di lapangan, kesepakatan tersebut nyaris tidak menunjukkan dampak nyata. Serangan udara Israel ke wilayah Lebanon selatan dilaporkan masih berlangsung, sementara kelompok Hizbullah juga terus melancarkan serangan roket ke arah posisi militer Israel.
Situasi ini memperlihatkan bahwa upaya diplomasi belum mampu menghentikan eskalasi konflik secara efektif.
Pemerintah Lebanon sendiri dinilai memiliki pengaruh yang terbatas terhadap Hizbullah yang selama ini menjadi salah satu kekuatan politik dan militer terbesar di negara tersebut.
Baca Juga: Ramai Isu Resuffle Menkeu, Kemensetneg Pastikan Posisi Purbaya Tetap Aman
Di sisi lain, Israel juga belum menunjukkan tanda-tanda akan menarik pasukannya dari wilayah yang telah diduduki di Lebanon selatan.
Ketegangan semakin rumit karena Iran disebut menginginkan isu Lebanon masuk dalam setiap kesepakatan perdamaian yang lebih luas.
Namun keinginan itu berbenturan dengan tuntutan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu yang mendorong pelucutan senjata Hizbullah secara menyeluruh.