“Produksi di dalam negeri kami dorong untuk peningkatan, kilang di dalam negeri pun itu juga kami sudah siapkan,” kata Yuliot.
Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan impor energi yang selama ini rentan terdampak fluktuasi kurs dolar AS.
Harga Minyak Dunia Naik, BBM Subsidi Tetap Aman
Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kenaikan harga minyak mentah belum menjadi alasan untuk menaikkan harga BBM subsidi.
Bahlil menjelaskan, meski rata-rata Indonesian Crude Price (ICP) pada April 2026 mencapai 117,31 dolar AS per barel, rata-rata harga minyak mentah Indonesia sejak Januari 2026 masih berada di kisaran 80 hingga 81 dolar AS per barel.
Baca Juga: Tragis! Candaan Berujung Maut, Mahasiswa di NTT Tewas Kena Tembakan Senapan Angin
“Rata-rata ICP kita sekarang itu kurang lebih sekitar 80–81 dolar AS dari bulan Januari sampai sekarang. Jadi, belum sampai 100 dolar AS,” ujar Bahlil.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat harga BBM subsidi masih berada pada level aman dan tidak memerlukan penyesuaian harga dalam waktu dekat.
Pemerintah pun kembali menegaskan komitmennya menjaga stabilitas harga energi agar daya beli masyarakat tetap terjaga di tengah tekanan ekonomi global dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Baca Juga: Ramai Iklan Pulau Katang Dijual Rp65 Miliar, Pemprov Kepri Buka Suara soal Status Hukumnya
Dengan stok yang memadai, pasokan yang terjamin, serta rata-rata harga minyak yang masih terkendali, pemerintah memastikan harga Pertalite dan Biosolar tetap aman hingga akhir 2026.
Kepastian ini diharapkan dapat meredam kekhawatiran masyarakat terkait potensi kenaikan harga BBM di tengah gejolak nilai tukar rupiah dan kondisi pasar energi global yang masih dinamis. ***