news

BRICS Desak Gencatan Senjata Tanpa Syarat di Gaza, Rekonstruksi Diperkirakan Capai Rp1,2 Kuadriliun

Sabtu, 16 Mei 2026 | 15:03 WIB
Kondisi Gaza Karena Serangan Israel yang Tak Henti-henti (Foto : Dok. Diakonia)

INSIBERNEWS - Kelompok ekonomi BRICS kembali menunjukkan sikap politik kolektifnya dalam isu global, khususnya terkait konflik di Timur Tengah.

Dalam pertemuan Menteri Luar Negeri yang digelar di New Delhi, India, Jumat (15/5/2026), para anggota sepakat menyerukan penghentian perang di Jalur Gaza serta penarikan penuh pasukan Israel dari wilayah tersebut.

Forum yang dihadiri negara-negara anggota BRICS itu menyoroti memburuknya situasi kemanusiaan di Gaza yang hingga kini belum menunjukkan tanda-tanda mereda.

Baca Juga: Madonna, Shakira, dan BTS Siap Guncang Final Piala Dunia 2026 Lewat Halftime Show Perdana FIFA

Dalam pernyataan bersama, mereka menekankan perlunya gencatan senjata segera tanpa syarat sebagai langkah awal untuk meredakan eskalasi konflik.

BRICS juga menegaskan bahwa semua pihak yang terlibat dalam konflik harus kembali membuka ruang dialog secara serius. Pendekatan diplomatik dinilai menjadi satu-satunya jalan yang realistis untuk menghentikan krisis berkepanjangan dan menghindari jatuhnya korban lebih banyak di lapangan.

Selain menyoroti aspek politik dan keamanan, pertemuan tersebut juga membahas besarnya tantangan rekonstruksi Gaza pascakonflik.

Wilayah yang mengalami kerusakan parah itu diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu dekade untuk bisa kembali berfungsi secara normal.

Baca Juga: 12 Kecamatan di Temanggung Masuk Zona Rawan Kekeringan, BPBD Siapkan Langkah Darurat

Sejumlah laporan internasional memperkirakan biaya pemulihan Gaza mencapai sekitar 70 miliar dolar AS atau setara dengan kurang lebih Rp1,2 kuadriliun. Angka tersebut mencerminkan skala kerusakan infrastruktur, perumahan, serta fasilitas publik yang terdampak konflik berkepanjangan.

Para diplomat BRICS menilai keterlambatan tercapainya gencatan senjata hanya akan memperburuk beban rekonstruksi di masa depan.

Baca Juga: Viral Penumpang Dibongkar karena Kartu Pokemon di Bandara Soetta, Bea Cukai Beri Penjelasan

Semakin lama konflik berlangsung, semakin besar pula biaya kemanusiaan dan ekonomi yang harus ditanggung masyarakat internasional.

Pernyataan bersama itu menjadi salah satu sinyal kuat bahwa BRICS mulai memainkan peran yang lebih aktif dalam isu geopolitik global, tidak hanya sebagai blok ekonomi, tetapi juga sebagai kekuatan politik yang mendorong penyelesaian konflik berbasis diplomasi.***

Halaman:

Tags

Terkini