Penggabungan dua konteks yang sangat berbeda inilah yang dinilai tidak etis dan memicu kontroversi di kalangan publik.
Menanggapi polemik yang berkembang, pihak SPPG Sidanegara 2 Cilacap akhirnya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka. Kepala SPPG, Hanif, mengakui adanya kelalaian dalam pembuatan dan publikasi konten tersebut.
Ia menyatakan bahwa pihaknya tidak bermaksud membandingkan dua kondisi yang jelas berbeda, serta berterima kasih atas kritik yang diberikan masyarakat sebagai bahan evaluasi ke depan.
Kasus ini menjadi pengingat pentingnya kehati-hatian dalam membuat konten publik, terutama yang berkaitan dengan isu sosial dan kemanusiaan. Sensitivitas dan empati dinilai menjadi kunci agar pesan yang disampaikan tidak menimbulkan kesalahpahaman atau melukai pihak lain. ***