Sementara itu, Senator Mississippi Roger Wicker menyatakan unggahan tersebut “benar-benar tidak dapat diterima” dan secara terbuka meminta Trump untuk menyampaikan permintaan maaf.
Video tersebut diketahui dibagikan kepada sekitar 11 juta pengikut Trump di Truth Social sebelum akhirnya dihapus sekitar 12 jam kemudian.
Klarifikasi Gedung Putih
Pada awalnya, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt membela unggahan tersebut dengan menyebut kemarahan publik sebagai sesuatu yang “dibesar-besarkan”.
Ia menyatakan video tersebut hanyalah meme internet yang menggambarkan Trump sebagai “Raja Hutan”, merujuk pada film animasi The Lion King, dengan Demokrat sebagai karakter lain dalam cerita tersebut.
Baca Juga: Konflik Memanas! SM Entertainment Ajukan Penyitaan Aset Chen, Baekhyun, dan Xiumin
Namun, fakta bahwa hanya keluarga Obama yang muncul dalam versi yang diunggah memicu kritik tambahan. Gedung Putih kemudian menghapus video itu dan menyatakan bahwa seorang staf telah “secara keliru” mengunggahnya.
Beberapa pihak mendesak agar staf yang bertanggung jawab diberhentikan. Namun, Trump memastikan tidak ada pemecatan yang dilakukan terkait insiden ini.
Dalam beberapa hari setelah kejadian, sejumlah pejabat pemerintahan berusaha menenangkan situasi. Wakil Presiden JD Vance menyebut kontroversi ini “bukan isu yang nyata” dan menilai masih banyak persoalan penting lain yang perlu menjadi fokus pemerintah.
Baca Juga: Yaqut Cholil Qoumas Gugat KPK Lewat Praperadilan atas Status Tersangka Kasus Kuota Haji
Meski demikian, insiden ini kembali memicu perdebatan tentang batasan etika dalam komunikasi politik, penggunaan media sosial oleh pejabat publik, serta sensitivitas isu rasial di Amerika Serikat.
Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana satu unggahan media sosial dapat berdampak besar terhadap citra politik seorang presiden. Di tengah polarisasi politik yang masih tinggi, kasus ini berpotensi memperdalam perpecahan antara pendukung dan penentang Trump.
Peristiwa ini juga menjadi pengingat bahwa di era digital, setiap konten yang dibagikan oleh tokoh publik memiliki konsekuensi luas baik secara politik, sosial, maupun reputasi internasional.