news

Banjir-Longsor di Sumatra: Pakar Sebut Siklon Senyar Bukan Satu-satunya Pemicu, Peran Industri Dipertanyakan?

Rabu, 10 Desember 2025 | 12:02 WIB
Tangkapan layar kondisi desa Garoga setelah diterjang banjir yang diikuti dengan material kayu gelondongan. (TikTok/Hasiananda_)

INSIBERNEWS - Rentetan banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Sumatra Utara, Aceh, dan Sumatra Barat beberapa hari terakhir menjadi pukulan berat bagi masyarakat. Ribuan warga terdampak, puluhan wilayah terputus, dan korban jiwa terus bertambah. Di tengah suasana duka itu, pertanyaan besar muncul: apa sebenarnya penyebab utama bencana yang datang beruntun ini?

Direktur Eksekutif Center for Budget Analysis (CBA), Uchok Sky Khadafi, menilai penyebabnya tidak bisa hanya disandarkan pada faktor cuaca ekstrem. Menurutnya, siklon tropis Senyar memang membawa hujan dengan intensitas luar biasa, namun ada peran manusia yang tak boleh diabaikan.

Baca Juga: Mendagri Jatuhkan Sanksi 3 Bulan untuk Bupati Aceh Selatan, Tegur Keras Kepala Daerah yang Pergi Saat Bencana

“Faktor inilah yang harus ditelusuri agar ketemu akar penyebabnya,” ujar Uchok dalam keterangannya, Selasa (9/12/2025).

Ia menjelaskan bahwa tekanan pada lingkungan di Sumatra sudah lama terjadi akibat masifnya ekspansi industri. Mulai dari perkebunan, pertambangan, hingga industri kertas, semuanya memiliki jejak panjang dalam perubahan bentang alam yang membuat wilayah tersebut makin rentan terhadap bencana hidrometeorologi.

Sektor kelapa sawit disebut menjadi yang paling dominan. Dengan konsesi resmi mencapai 2,018 juta hektare, luas lahan sawit telah mengubah banyak kawasan hutan menjadi area produksi.

Baca Juga: Berbasis AI, Prabowo Bagikan Kacamata Pintar untuk Warga Tunanetra yang Dapat Scan Data, Uang hingga Lawan Bicara

Belum lagi perkebunan ilegal yang kerap membuka lahan secara brutal, tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Salah satu temuan yang disorot Uchok ialah dugaan penanaman sawit ilegal oleh PT Sinar Gunung Sawit Raya seluas 451 hektare.

Menurutnya, pembukaan lahan ilegal seperti itu memperbesar risiko banjir dan longsor karena struktur tanah kehilangan daya serap dan perlindungan alaminya. Begitu hujan ekstrem turun, tanah tidak lagi mampu mengikat air.

Tak hanya sawit, sektor tambang juga ikut disorot. PT Agincourt Resources, pengelola tambang emas Martabe, memiliki konsesi luas mencapai 130.252 hektare.

Baca Juga: Kecopetan saat Liburan di Bali, Polisi Tangkap Pencuri Dompet Jeon Hye Bin

Dari angka tersebut, sekitar 40 ribu hektare tumpang tindih dengan kawasan ekosistem Batang Toru—habitat satwa langka seperti orangutan Tapanuli—dan 30 ribu hektare lainnya berada di kawasan hutan lindung Tapanuli.

Area seluas itu, kata Uchok, membuat tekanan ekologis di wilayah pegunungan semakin besar. Ketika penyangga alami dikurangi, potensi gerakan tanah meningkat drastis, terutama saat curah hujan ekstrem datang dalam waktu singkat.

Klaster ketiga yang dinilai patut dikaji adalah industri kertas. PT Toba Pulp Lestari (TPL) menjadi pemain terbesar dengan area konsesi 167.912 hektare. Sekitar 46 ribu hektare ditanami eukaliptus dan 48 ribu hektare ditetapkan sebagai kawasan konservasi. Meski demikian, intensitas pemanfaatan lahan TPL jauh lebih kecil dibanding perkebunan sawit, yakni sekitar 2,3 persen dari total luas konsesi.

Halaman:

Tags

Terkini