INSIBERNEWS - Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut melakukan panggilan khusus kepada Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi untuk membahas isu yang sedang panas-panasnya yaitu hubungan Tokyo–Beijing terkait Taiwan. Dalam percakapan itu, Trump dikabarkan meminta Takaichi agar berhati-hati menyuarakan sikap Jepang supaya situasi tidak makin meledak.
Panggilan tersebut dilakukan di tengah meningginya tensi di Asia Timur. Jepang dan China sedang berada dalam periode yang sensitif, terutama setelah beberapa pernyataan Takaichi dianggap Beijing sebagai ancaman yang mencampuri urusan kedaulatan China.
Baca Juga: Rupiah Menguat di Awal Perdagangan, Didongkrak Ekspektasi Pemangkasan Suku Bunga The Fed
Awal bulan ini, Takaichi sempat menyampaikan bahwa jika China melakukan agresi ke Taiwan, Jepang bisa saja mengerahkan Pasukan Bela Diri karena dampaknya dinilai dapat mengancam keamanan nasional Jepang. Ucapan itu langsung dibalas China dengan respons keras dan kecaman diplomatik.
Beijing menyebut ucapan tersebut provokatif, tidak bertanggung jawab, dan “mengganggu stabilitas kawasan.” Pemerintah China bahkan menekan Tokyo agar Takaichi menarik pernyataannya—meski sejauh ini permintaan itu belum ditanggapi secara formal.
Dalam konteks inilah Trump masuk. Menurut sumber yang mengetahui isi pembicaraan, Trump tidak memaksa Takaichi menarik ucapannya.
Baca Juga: Gelombang PHK di Singapura Sepanjang 2025 Bikin Cemas, Sektor Bergaji Tinggi Paling Terpukul
Namun ia memberikan semacam “peringatan halus” agar Jepang tidak membuat suasana semakin panas. Pendekatannya disebut lembut, lebih mengingatkan daripada menekan.
Trump juga menyinggung pentingnya menjaga saluran komunikasi dengan China, terlebih setelah Washington—di bawah kepemimpinannya—berusaha merapikan kembali hubungan ekonomi dan diplomatik dengan Beijing. Ia menilai Jepang punya peran strategis, tetapi perlu mengukur setiap langkah dengan matang.
Baca Juga: Kebakaran Hebat Hanguskan Apartment di Hongkong, Sedikitnya 44 Orang Tewas dan Ratusan Hilang
Di sisi lain, pemerintah Jepang tetap bersikap bahwa keamanan Taiwan memiliki hubungan langsung dengan keamanan Jepang. Kawasan yang hanya dipisahkan selat sempit itu dianggap memiliki nilai geopolitik vital bagi stabilitas Jepang dan rantai pasokan regional.
Para analis menilai, Takaichi sebenarnya sedang mencoba mengirim sinyal bahwa Jepang tidak akan tinggal diam jika situasi Taiwan memicu ancaman lebih luas. Namun gaya penyampaiannya kali ini membuat hubungan Tokyo–Beijing kembali tegang setelah sempat stabil beberapa bulan terakhir.
Bagaimanapun, percakapan Trump dan Takaichi menunjukkan bahwa isu Taiwan kini bukan hanya persoalan dua negara, melainkan bagian dari percaturan besar geopolitik Asia. Seberapa jauh Jepang akan melunak atau justru tetap kukuh, akan menjadi faktor penting dalam menentukan arah dinamika kawasan ke depan.***