INSIBERNEWS - Ketegangan di Timur Tengah semakin memanas setelah serangan udara Israel menghantam markas Hamas di Doha, Qatar, pada Rabu (10/9). Hamas menyebut sedikitnya enam orang tewas dalam insiden tersebut, termasuk putra dari salah satu tokoh penting mereka, Khalil Al-Hayya.
Korban yang dimaksud adalah Humam Al-Hayya, anak dari Khalil Al-Hayya yang selama ini dikenal sebagai negosiator senior Hamas.
Selain itu, satu ajudan dan tiga pengawal pribadi juga dilaporkan tewas. Sementara seorang anggota pasukan keamanan Qatar turut menjadi korban dalam serangan itu.
Baca Juga: Trump Janji ke Qatar, Serangan Israel Tak Akan Terulang Lagi
Meski menjadi target utama, Khalil Al-Hayya sendiri berhasil selamat dari serangan tersebut. Hamas menyebut kegagalan Israel membunuh Al-Hayya sebagai bukti bahwa “musuh tidak berhasil melemahkan delegasi negosiasi.”
“Musuh gagal membunuh saudara-saudara kami di delegasi negosiasi,” ujar Hamas dalam pernyataannya. Kelompok itu menegaskan akan terus melanjutkan perjuangan meski kehilangan beberapa kader pentingnya.
Baca Juga: Heboh! Mayat Wanita Ditemukan Membusuk di Tesla Sitaan Milik Rapper D4vd
Media Al-Jazeera kemudian merilis daftar nama korban tewas. Mereka adalah Jihad Labad (ajudan Khalil Al-Hayya), Humam Al-Hayya (putra Khalil Al-Hayya), Abdullah Abdul Wahid (pengawal), Moamen Hassouna (pengawal), Ahmed Al-Mamluk (pengawal), serta Kopral Bader Saad Mohammed Al-Humaidi Al-Dosari dari Pasukan Keamanan Dalam Negeri Qatar (Lekhwiya).
Kehadiran nama terakhir membuat situasi semakin rumit. Pasalnya, Qatar dikenal sebagai mediator penting dalam konflik Timur Tengah. Serangan yang menewaskan aparat keamanan mereka berpotensi memicu ketegangan diplomatik baru antara Doha dan Tel Aviv.
Baca Juga: Skandal Kuota Haji, KPK Sebut Jamaah dan Subsidi Negara Jadi Korban
Sejak 2012, Qatar memang memberikan izin kepada Hamas untuk membuka kantor politik di ibu kotanya. Langkah itu dimaksudkan agar komunikasi dan negosiasi dengan pihak-pihak terkait bisa berjalan lancar, meskipun langkah ini kerap dipandang kontroversial oleh sekutu-sekutu Barat.
Serangan di Doha ini pun mengejutkan banyak pihak. Sebab, Qatar selama ini dipandang sebagai wilayah netral yang relatif aman, jauh dari medan pertempuran langsung antara Israel dan Hamas.
Fakta bahwa Israel berani melancarkan serangan ke jantung diplomasi tersebut menandai eskalasi baru yang lebih berisiko.
Baca Juga: Fenomena Operasi Plastik Berulang di Kalangan Selebriti Indonesia: Risiko BDD dan Kesehatan