INSIBERNEWS - Korea Utara kembali melontarkan kecaman keras terhadap Presiden Korea Selatan Lee Jae-myung usai pidatonya di Washington DC awal pekan ini.
Lewat pernyataan resmi yang dirilis Korean Central News Agency (KCNA), Pyongyang menyebut Lee sebagai pemimpin “munafik” karena menyerukan denuklirisasi Semenanjung Korea saat berada di Amerika Serikat.
Baca Juga: Penembakan di Gereja Katolik AS Tewaskan Dua Anak, FBI Selidiki Aksi Teror
Dalam kunjungannya ke think tank Center for Strategic and International Studies (CSIS), Lee menegaskan pentingnya mempertahankan aliansi dengan Washington. Ia juga memperingatkan bahwa Korea Selatan akan memberi respons tegas jika terjadi provokasi dari Utara.
Pernyataan itu rupanya membuat berang rezim Kim Jong Un. KCNA menuding Lee telah merendahkan martabat Korea Utara dengan menyebut mereka sebagai “tetangga miskin tapi garang” sekaligus mendorong gagasan yang mereka anggap mustahil, yakni denuklirisasi.
Baca Juga: Ribuan Buruh Gelar Aksi Damai Serentak di Jakarta, Jawa Barat, dan Banten Hari Ini
“Posisi kami jelas, senjata nuklir adalah martabat bangsa sekaligus jaminan keamanan kami. Itu tidak bisa ditawar apalagi dicabut,” tulis KCNA, menegaskan bahwa Pyongyang tak akan pernah melepaskan persenjataan nuklirnya.
Dalam pernyataan itu, Korea Utara juga menggambarkan statusnya sebagai kekuatan nuklir sebagai “pilihan yang tak terhindarkan.” Menurut mereka, kondisi geopolitik yang penuh ancaman eksternal justru semakin membuktikan bahwa senjata nuklir menjadi satu-satunya cara bertahan.
Baca Juga: Dari Ojol hingga Wamenaker, Karier Noel Ebenezer Kini Tumbang Usai Jadi Tersangka KPK
Sementara itu, Presiden Lee dalam lawatannya tidak hanya menyuarakan isu keamanan, tetapi juga melempar wacana diplomasi. Ia mengusulkan agar Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggelar pertemuan dengan Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada akhir tahun ini.
Juru bicara kepresidenan Korsel, Kang Yoo-jung, menyebut Trump menyambut baik ide tersebut.
“Beliau menilai usulan Presiden Lee sebagai langkah bijak untuk membuka kembali komunikasi dengan Pyongyang,” ungkap Kang.
Baca Juga: Insentif Mobil Listrik Dinilai Bisa Tekan Industri Otomotif Lokal, Target Produksi Terancam Meleset
Meski begitu, jalan menuju diplomasi jelas tidak mudah. Sejumlah pengamat menilai retorika keras Pyongyang dalam beberapa tahun terakhir menandakan bahwa Korea Utara kian menutup pintu untuk negosiasi, terutama yang berkaitan dengan pengurangan atau pembongkaran senjata nuklirnya.