INSIBERNEWS – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli kembali mencuri perhatian publik setelah menampilkan sebuah patung ber-rompi oranye di lobi kantor Kemnaker.
Patung yang jelas-jelas menyerupai "seragam khas KPK" itu dimaksudkan sebagai pengingat bagi seluruh pegawai agar menjauhi praktik korupsi.
Sejak awal menjabat, Yassierli berulang kali menegaskan komitmennya untuk menutup segala celah korupsi di lingkungan kementeriannya.
Baca Juga: Mahfud MD Puji KPK Atas di- OTT WAMENAKER Noel Ebenezer Sebut KPK Sudah Mulai Terlepas Dari Belenggu Politik Tertentu
Ia bahkan menyebut sudah melakukan berbagai langkah pencegahan, mulai dari menandatangani pakta integritas terkait penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), hingga merotasi pejabat secara rutin.
Dan kini, simbol perlawanan terbaru itu hadir dalam wujud patung berwarna mencolok.
“Teman-teman kalau lihat di sini ada patung orang pakai rompi oranye, kita ingatkan terus,” ujar Yassierli saat ditemui di Jakarta, Kamis (21/8).
Baca Juga: Irfan Hakim dan Anwar Rela Datang ke Pengajian 7 Hari Mpok Alpa Meninggal, Anwar Ungkap Iri Dengan Kebaikan Alpa
Ia menegaskan, simbol itu dipasang agar setiap pegawai selalu merasa "diawasi" dan tidak tergoda untuk bermain-main dengan uang negara.
Namun, di luar dinding lobi kementerian, respons publik ternyata jauh dari harapan. Alih-alih menuai apresiasi, langkah ini justru menuai kritik dan dianggap lebih mirip gimmick ketimbang strategi serius pemberantasan korupsi.
Banyak masyarakat menilai bahwa patung tersebut tidak akan membuat pejabat yang nakal menjadi jera.
Baca Juga: Kuasa Hukum Nikita Mirzani Sebut Laporan Reza Gladys Terhadap Nikmir Merupakan Perkara Paksa
“Mana takut sama patung, sama Tuhan yang Maha Melihat aja mereka nggak takut,” komentar salah seorang warganet di media sosial.
Ungkapan itu pun banyak disetujui pengguna lain yang menilai bahwa simbol hanyalah simbol, tanpa ada tindakan nyata yang lebih konkret.
Tak sedikit pula yang menyindir biaya di balik pembuatan patung tersebut. Celotehan seperti “tebak anggaran patungnya” bermunculan.
Baca Juga: OTT Wamenaker Immanuel Ebenezer, KPK Amankan 22 Kendaraan Mewah dan Uang Tunai
Menyiratkan keraguan bahwa proyek simbolik semacam ini bisa justru membuka peluang baru untuk ironi: menghamburkan anggaran atas nama antikorupsi.
Fenomena ini menambah daftar panjang cara-cara kreatif lembaga negara dalam "mengkampanyekan" integritas.
Namun, publik tampaknya mulai lelah dengan simbolisasi yang cenderung bersifat kosmetik.
Baca Juga: Bagian Penting Transformasi, Begini Strategi BRI Jaga Kualitas Portofolio Lewat Penguatan Manajemen Risiko
Mereka lebih menuntut tindakan nyata, seperti penindakan hukum yang transparan, audit keuangan yang ketat, dan pemberian sanksi tegas bagi pelanggar.
Yassierli sendiri tetap bersikeras bahwa langkah-langkah kecil seperti ini perlu untuk menumbuhkan budaya malu di kalangan birokrat.
Meski begitu, pertanyaan publik tak bisa dihindari: apakah sebuah patung benar-benar bisa membuat pejabat korup sadar diri, atau justru hanya menjadi dekorasi unik yang akhirnya berdebu di sudut lobi kementerian?
Baca Juga: Porsche Carrera Cup Asia 2025 Siap Panaskan Sirkuit Mandalika Akhir Pekan Ini