news

Norwegia Lepas Saham di 11 Perusahaan Israel, Soroti Krisis Kemanusiaan Gaza

Selasa, 12 Agustus 2025 | 17:36 WIB
Negara Israel (Unsplash)

INSIBERNEWS - Norwegia melalui The Government Pension Fund Global, yang dikenal sebagai dana kekayaan negara terbesar di dunia, memutuskan untuk melepas kepemilikan sahamnya di 11 perusahaan Israel.

Keputusan ini datang di tengah meningkatnya tekanan internasional terkait krisis kemanusiaan yang memburuk di Jalur Gaza.

Baca Juga: APBD DKI 2026 Tembus Rp95,3 Triliun, Tumbuh di Tengah Inflasi Terkendali

Dikutip dari Associated Press, Selasa (12/8/2025), langkah ini menjadi bagian dari upaya lembaga tersebut untuk mengurangi eksposur investasinya di Israel. The Government Pension Fund Global (GPFG) sendiri mengelola aset triliunan dolar dan memiliki pengaruh signifikan di pasar global.

Sebelumnya, GPFG tercatat memiliki investasi di 61 perusahaan Israel pada paruh pertama tahun 2025.

Namun, pekan lalu, pihak manajemen memutuskan untuk melepas seluruh kepemilikan di 11 di antaranya. Identitas perusahaan-perusahaan tersebut tidak dibuka ke publik.

Baca Juga: Polemik Ijazah UNY Tak Kunjung Selesai, Muncul Surat Pernyataan Kontroversial untuk Wisudawan

CEO Norges Bank Investment Management, Nicolai Tangen, menyebut keputusan ini tidak diambil secara gegabah. Menurutnya, situasi di Gaza telah mencapai titik kritis yang memerlukan langkah tegas dari berbagai pihak, termasuk dunia investasi.

“Langkah-langkah ini diambil sebagai respons terhadap keadaan luar biasa. Situasi di Gaza merupakan krisis kemanusiaan yang serius,” ujar Tangen dalam pernyataannya.

Baca Juga: Tragis! Pegawai BPS Habisi Nyawa Rekan Kerja Demi Utang Judi Online

Selain menjual saham, GPFG juga berencana mengakhiri kontrak kerja sama dengan manajer investasi eksternal yang berbasis di Israel. Hal ini menjadi sinyal bahwa mereka tidak hanya membatasi kepemilikan langsung, tetapi juga rantai pengelolaan aset yang terkait.

Keputusan ini di satu sisi diapresiasi oleh kelompok pro-kemanusiaan yang menilai investasi pada perusahaan yang beroperasi di wilayah konflik harus mempertimbangkan dampak etis.

Namun di sisi lain, langkah ini menuai kritik dari beberapa pihak yang menilai keputusan tersebut bernuansa politis dan bisa memengaruhi hubungan ekonomi Norwegia–Israel.

Baca Juga: Tampil Cetar dengan Lipstik Merah Merona di Hari Kemerdekaan, Why Not? Berikut Rekomendasinya

Halaman:

Tags

Terkini